Piala Afrika selalu menjadi momen paling bergengsi bagi sepak bola benua hitam. Sejak pertama kali digelar pada 1957, turnamen ini tidak hanya menampilkan bakat luar biasa, tetapi juga menyajikan kisah dramatis yang menginspirasi jutaan penggemar. Mesir memegang rekor juara terbanyak dengan tujuh trofi, diikuti oleh negara-negara kuat seperti Nigeria, Kamerun, dan Ghana. Namun, di balik gemerlap kemenangan, sejarah turnamen ini juga dipenuhi cerita-cerita sedih: sejumlah pemain legendaris Afrika tidak pernah merasakan manisnya mengangkat trofi Piala Afrika.

Meski prestasi mereka di level klub dan individu luar biasa, nasib di pentas kontinental seolah menjauh dari mereka. Berikut tujuh legenda sepak bola Afrika yang secara mengejutkan belum pernah menjuarai Piala Afrika.


1. Nwankwo Kanu – Sang Pejuang Nigeria

Nwankwo Kanu adalah simbol kegigihan sepak bola Nigeria. Karier internasionalnya penuh dengan momen-momen mendebarkan, tetapi trofi Piala Afrika selalu luput dari genggamannya.

Kesempatan terbaik Kanu datang pada final Piala Afrika 2000 melawan Kamerun. Pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti, dan Kanu gagal mengeksekusi penalti penting, sehingga Nigeria harus mengakui keunggulan lawan. Meski demikian, Kanu tidak mudah menyerah; ia kembali membawa Nigeria ke semifinal pada 2002, 2004, 2006, dan 2010, tetapi timnya selalu tersingkir sebelum partai puncak.

Kanu tetap dikenang sebagai pemain yang mampu menginspirasi generasi muda Nigeria. Keahliannya dalam dribel dan visi bermain menjadikannya salah satu pemain Afrika paling berpengaruh, meski tanpa gelar kontinental.


2. Emmanuel Adebayor – Bintang Togo yang Terbatas Peluang

Emmanuel Adebayor dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika 2008, mengungguli nama-nama besar seperti Didier Drogba dan Samuel Eto’o. Namun, membela Togo membuat jalan meraih gelar Piala Afrika sangat sulit.

Prestasi tertinggi Adebayor di Piala Afrika hanyalah perempat final 2013, ketika Togo kalah dari Burkina Faso. Kendala utama bukan hanya kemampuan individu, tetapi juga kualitas tim yang terbatas. Meski begitu, Adebayor tetap dikenang karena kecepatan, kemampuan finishing, dan peran pentingnya dalam mengangkat prestise sepak bola Togo di kancah internasional.


3. Pierre-Emerick Aubameyang – Mesin Gol Gabon

Pierre-Emerick Aubameyang adalah pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Gabon dengan 39 gol. Di level klub, performanya impresif, terutama bersama Arsenal dan Marseille. Namun, di Piala Afrika, prestasinya belum pernah melampaui perempat final.

Hingga usia 36 tahun, Aubameyang masih aktif membela Gabon, dan turnamen Piala Afrika 2025 kemungkinan menjadi kesempatan terakhirnya untuk menambah prestasi internasional. Meskipun belum membawa Gabon meraih gelar, pengaruh Aubameyang terhadap sepak bola Afrika tidak dapat diremehkan. Kecepatan, ketepatan finishing, dan kemampuan membaca permainan menjadikannya sosok yang selalu ditakuti lawan.


4. Michael Essien – Pilar Ghana yang Nyaris Juara

Michael Essien dikenal sebagai “The Bison” karena kekuatan dan stamina luar biasanya. Ia hampir membawa Ghana juara Piala Afrika pada 2010, tetapi timnya kalah di final. Sebelumnya, pada 2008, Ghana juga terhenti di semifinal.

Essien sendiri mengakui bahwa kegagalan ini sangat menyakitkan bagi generasinya, terutama karena mereka memiliki tim yang solid dan berpotensi besar. Ghana, meski memiliki sejarah kuat, terakhir kali juara pada 1982, dan hingga kini masih berjuang untuk kembali menjuarai turnamen kontinental.


5. Didier Drogba – Legenda Pantai Gading

Didier Drogba adalah legenda sepak bola Pantai Gading dan ikon Chelsea di level klub. Namun, dua final Piala Afrika yang dijalani pada 2006 dan 2012 berakhir pahit melalui adu penalti. Kekalahan paling menyakitkan terjadi pada final 2006 melawan Mesir, saat Drogba gagal mengeksekusi penalti pertama.

Pantai Gading akhirnya juara pada 2015, setelah Drogba pensiun. Meski tidak meraih gelar Piala Afrika, pengaruhnya terhadap sepak bola Afrika sangat besar. Drogba menjadi inspirasi bagi banyak striker muda dan simbol ketangguhan serta semangat juang di benua Afrika.


6. George Weah – Legenda Dunia dari Liberia

George Weah adalah satu-satunya pemain Afrika peraih Ballon d’Or, sekaligus dua kali menjadi Pemain Terbaik Afrika. Prestasi ini menegaskan statusnya sebagai legenda dunia.

Namun, membela Liberia membuatnya sulit bersaing di level internasional. Weah hanya tampil di dua edisi Piala Afrika dan selalu tersingkir di fase grup. Sejak pensiun, Liberia juga jarang lolos ke turnamen ini. Meski tanpa trofi kontinental, Weah tetap menjadi ikon bagi sepak bola Afrika dan simbol kesuksesan individu dari negara yang kurang berprestasi di level tim nasional.


7. Mohamed Salah – Ikon Modern Mesir

Mohamed Salah adalah wajah baru sepak bola Afrika di era modern. Ia dua kali menjadi runner-up Piala Afrika pada 2017 dan 2021. Kekalahan pada 2021 dari Senegal sangat menyakitkan, bahkan Salah tidak sempat mengeksekusi penalti terakhir.

Pada usia 33 tahun, Salah datang ke turnamen 2025 dengan motivasi tinggi. Mesir kini menjadi salah satu kandidat juara, dan banyak penggemar berharap Piala Afrika kali ini menjadi kesempatan Salah untuk menambah koleksi gelarnya. Meski belum meraih trofi, kontribusinya di klub dan tim nasional telah mengukir namanya sebagai salah satu legenda Afrika.


Meskipun tak pernah mengangkat Piala Afrika, nama-nama ini tetap dikenang sebagai legenda yang memberikan kontribusi luar biasa bagi sepak bola Afrika. Mereka membuktikan bahwa kejayaan tidak selalu diukur dari trofi, melainkan dari pengaruh, dedikasi, dan inspirasi yang diberikan kepada generasi penerus.