Musisi Sal Priadi mendadak menjadi pusat perhatian publik setelah sebuah foto dirinya bersama sastrawan Sitok Srengenge viral di media sosial X. Potret tersebut memicu gelombang kritik tajam dari warganet yang menilai kehadiran Sal seolah memberi ruang pembenaran terhadap figur kontroversial.

Reaksi keras muncul karena Sitok Srengenge pernah terseret kasus dugaan kekerasan seksual pada 2013. Meski kasus itu telah berlalu lebih dari satu dekade, luka yang ditinggalkan masih terasa bagi para penyintas dan masyarakat luas.

Melihat situasi semakin panas, Sal Priadi memilih tidak berdiam diri. Ia menyampaikan klarifikasi terbuka melalui akun pribadinya untuk meluruskan persepsi publik yang berkembang.

Awal Mula Foto yang Memicu Polemik

Foto tersebut memperlihatkan Sal Priadi berdiri bersama Sitok Srengenge di sebuah rumah. Tanpa konteks yang jelas, unggahan itu segera menyebar luas dan memicu beragam tafsir.

Banyak netizen mempertanyakan sensitivitas Sal sebagai figur publik. Mereka menilai foto tersebut tidak pantas, mengingat rekam jejak Sitok yang pernah menjadi sorotan hukum dan moral.

Isu ini dengan cepat berkembang menjadi diskusi besar di media sosial, terutama soal tanggung jawab publik figur dalam menjaga empati terhadap korban kekerasan seksual.

Klarifikasi Langsung dari Sal Priadi

Sal Priadi akhirnya buka suara untuk menjelaskan duduk perkara. Ia menegaskan bahwa kehadirannya di lokasi tersebut bukan untuk bertemu Sitok secara khusus.

Menurut Sal, kunjungannya semata-mata untuk menemui sahabatnya, Laore Siwi Mentari, yang merupakan anak dari Sitok Srengenge. Situasi pertemuan itu berlangsung spontan dan tanpa agenda tertentu.

Ia mengaku hanya bersikap sopan sebagai tamu ketika berada di rumah tersebut. Foto yang diambil pun, menurutnya, tidak memiliki maksud apa pun selain dokumentasi biasa.

Tidak Ada Unsur Dukungan atau Pembelaan

Sal menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak membela Sitok Srengenge. Ia menyadari betul bahwa foto tersebut bisa ditafsirkan keliru dan melukai perasaan banyak pihak.

Ia menyampaikan sikapnya dengan tegas dan tanpa ambigu. Menurut Sal, urusan hukum yang pernah melibatkan Sitok adalah persoalan serius yang tidak bisa dipandang ringan.

Sal juga menyatakan bahwa jika ada pihak yang memelintir fotonya seolah ia berpihak pada pelaku, hal tersebut berada di luar kendalinya.

Sikap Tegas terhadap Kekerasan Seksual

Dalam klarifikasinya, Sal menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap keadilan dan korban kekerasan seksual. Ia bahkan meluapkan emosinya dengan kata-kata keras untuk menegaskan posisinya.

Pernyataan ini menuai beragam respons. Sebagian netizen mengapresiasi kejujuran dan ketegasan Sal, sementara yang lain tetap mengkritik karena menganggap klarifikasi datang terlambat.

Namun, bagi Sal, yang terpenting adalah menyampaikan sikap secara terbuka agar tidak ada kesalahpahaman yang terus berlarut.

Kesadaran dan Refleksi Diri

Sal Priadi juga mengakui adanya kelalaian dari dirinya. Ia menyadari bahwa sebagai figur publik, setiap tindakan sekecil apa pun dapat berdampak luas.

Ia menyebut akan lebih berhati-hati di masa mendatang, terutama dalam situasi yang berpotensi menyinggung isu sensitif. Sikap reflektif ini menunjukkan kesadarannya terhadap tanggung jawab sosial yang melekat pada popularitas.

Pengakuan tersebut menjadi poin penting yang menandai bahwa Sal tidak menutup mata terhadap kritik yang diarahkan kepadanya.

Kilas Balik Kasus Sitok Srengenge

Kasus dugaan kekerasan seksual yang menyeret Sitok Srengenge bermula dari laporan seorang mahasiswi berinisial RW. Korban melaporkan dugaan perbuatan tidak menyenangkan yang berujung kehamilan.

Peristiwa tersebut diklaim terjadi di sebuah rumah kos di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Kasus ini mengejutkan publik karena melibatkan tokoh sastra yang cukup disegani.

Sitok sempat ditetapkan sebagai tersangka pada 2014. Namun, proses hukum yang berjalan tidak berujung pada putusan yang jelas, sehingga meninggalkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Sensitivitas Publik dan Tanggung Jawab Figur Publik

Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya sensitivitas sosial, terutama bagi figur publik. Publik kini semakin kritis dan menuntut sikap yang jelas dalam isu-isu kemanusiaan.

Sal Priadi berada di posisi sulit, di mana satu foto tanpa konteks bisa memicu badai opini. Klarifikasi menjadi langkah penting, namun juga menjadi pembelajaran berharga.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa empati, kehati-hatian, dan komunikasi terbuka sangat dibutuhkan di era media sosial.

Penutup: Klarifikasi dan Pembelajaran

Sal Priadi telah menyampaikan klarifikasi dan sikapnya secara tegas. Ia menolak dikaitkan dengan pembelaan terhadap tindakan yang melukai korban.

Meski polemik belum sepenuhnya mereda, pernyataan terbuka tersebut menjadi bentuk tanggung jawab moral yang patut dicatat. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ruang publik menuntut kepekaan yang lebih tinggi dari siapa pun yang berada di dalamnya.