
Dunia olahraga Indonesia kembali diguncang badai besar di pengujung tahun 2025. Komite Olimpiade Internasional (IOC) secara resmi menjatuhkan sanksi berat kepada Indonesia, buntut dari kebijakan pemerintah yang membatalkan visa delegasi atlet Israel pada Kejuaraan Dunia Senam Artistik di Jakarta. Sebuah Keputusan ini bukan sekadar tamparan diplomatik, melainkan sinal keras bahwa “rumah olahraga” kita sedang tidak baik-baik saja
Indonesia Disanksi IOC,Pukulan Telak bagi Ambisi Global
Sanksi yang dijatuhkan IOC tidak main-main. Setidaknya ada tiga dampak instan yang melumpuhkan ambisi olahraga nasional:
- Penghentian Dialog Tuan Rumah Olimpiade 2036: Impian Indonesia untuk mencetak sejarah sebagai negara Asia Tenggara pertama yang menggelar Olimpiade kini berada di ujung tanduk. IOC telah memutus seluruh jalur komunikasi terkait bidding tersebut.
- Larangan Penyelenggaraan Event Internasional: IOC merekomendasikan seluruh federasi internasional untuk tidak memberikan hak tuan rumah kepada Indonesia selama jaminan kebebasan akses bagi seluruh atlet belum terpenuhi.
- Isolasi Administratif: Hubungan antara Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan markas besar IOC di Lausanne kini mengalami ketegangan yang menghambat kolaborasi program pengembangan atlet.

Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi dilematis. Di satu sisi, ada prinsip konstitusional dan moral terkait solidaritas Palestina yang dipegang teguh. Di sisi lain, olahraga internasional beroperasi di atas prinsip netralitas politik dan inklusivitas yang tidak bisa ditawar.
Mengapa Kita Harus Menata Ulang Masa Depan?
Sanksi ini adalah momentum emas untuk bercermin. Selama ini, tata kelola olahraga nasional seringkali terjebak dalam pusaran birokrasi yang lamban, dualisme kepengurusan cabang olahraga (cabor), hingga tumpang tindih kewenangan antara KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dan KOI.
Menata ulang rumah olahraga berarti kita harus berani melakukan “de-politisasi” manajemen olahraga. Olahraga tidak boleh lagi hanya menjadi panggung pencitraan politik atau sandera kepentingan sektoral. Sudah saatnya kita memiliki cetak biru (blueprint) yang memisahkan secara tegas mana wilayah kedaulatan politik luar negeri dan mana wilayah profesionalisme olahraga yang harus mengikuti regulasi global.
Langkah Strategis Pembenahan
Untuk keluar dari lubang jarum ini, diperlukan langkah-langkah radikal yang sistematis:
- Penyatuan Visi Kelembagaan: Di luar negeri maupun pembinaan di dalam negeri perdebatan panjang mengenai peran KONI dan KOI harus diselesaikan. internasional. Jangan sampai keputusan politik diambil secara mendadak tanpa mitigasi dampak olahraga.
- Modernisasi Pembinaan Atlet: Sambil “menjalani hukuman” sebagai tuan rumah, fokus harus dialihkan sepenuhnya pada kualitas atlet. Investasi pada sport science, fasilitas latihan di daerah, dan kesejahteraan atlet harus ditingkatkan. Kita harus membuktikan bahwa meski dilarang menjadi tuan rumah, prestasi atlet Indonesia di luar negeri tetap tidak terbendung.
- Diplomasi Olahraga yang Proaktif: Merumuskan protokol penyelenggaraan event yang tetap menghormati kedaulatan negara tanpa melanggar Olympic Charter. Indonesia perlu memperkuat negosiasi di level federasi internasional. Jangan sampai keputusan politik diambil secara mendadak tanpa mitigasi dampak olahraga.

Olahraga sebagai Alat Persatuan, Bukan Pemisah
Kita harus ingat bahwa esensi olahraga adalah sportivitas dan persahabatan antar-bangsa. Sanksi IOC ini memang menyakitkan, namun ia memberikan kita waktu untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk mengejar status “Tuan Rumah” dan kembali ke akar: yaitu menciptakan ekosistem olahraga yang sehat bagi anak bangsa dan negara kita,agar lebih bersemangat bagi kaun anak bangsa kita.
Rumah olahraga kita harus dibangun kembali di atas fondasi profesionalisme. Aturan main dunia internasional harus dipelajari dan disinkronkan dengan kebijakan nasional. Tanpa adanya sinkronisasi ini, kita akan terus terjebak dalam pola yang sama: antusiasme besar di awal, lalu kolaps karena benturan regulasi di akhir.
Penutup
Sanksi IOC adalah pil pahit yang harus ditelan untuk kesembuhan jangka panjang. Menata ulang rumah olahraga bukan hanya soal memperbaiki gedung atau mengganti pengurus, melainkan mengubah paradigma berpikir. Jika kita mampu melewati badai ini dengan reformasi total, Indonesia tidak hanya akan kembali ke panggung dunia sebagai tuan rumah, tetapi sebagai kekuatan olahraga yang disegani karena integritas dan prestasinya.
