Kamboja secara resmi mengekstradisi miliarder dan taipan bisnis Chen Zhi ke China pada awal Januari 2026, setelah penangkapannya yang menjadi sorotan global. Langkah ini merupakan klimaks dari tekanan internasional yang kuat terhadap jaringan kejahatan siber lintas negara yang diduga dipimpin oleh Chen dan kaitannya dengan penipuan kripto bernilai miliaran dolar.

Siapa Chen Zhi dan Latar Belakangnya
Chen Zhi adalah seorang pengusaha yang lahir di provinsi Fujian, China, dan kemudian menjadi warga negara Kamboja setelah dinaturalisasi pada 2014. Ia dikenal sebagai pendiri dan Chairman Prince Holding Group, sebuah konglomerat yang berkecimpung dalam berbagai sektor — dari pengembangan properti, layanan keuangan, hingga perbankan.
Di mata publik dan media lokal di Kamboja, Chen awalnya dipandang sebagai dermawan dan investor yang berperan aktif dalam pembangunan ekonomi setempat. Ia pernah menjabat penasihat beberapa pejabat pemerintah dan digambarkan sebagai tokoh bisnis berpengaruh. Namun dibalik citra itu, otoritas internasional menilai Chen merupakan otak di balik salah satu operasi penipuan kripto dan siber terbesar di Asia Tenggara modern.
Chen Zhi Tuduhan Kriminal dan Penyelidikan Internasional
Kasus terhadap Chen Zhi bermula dari tuduhan serius yang dilayangkan oleh otoritas di Amerika Serikat dan Inggris sejak Oktober 2025. Pemerintah AS menuduh Chen memimpin jaringan kriminal transnasional yang bertanggung jawab atas penipuan investasi kripto besar-besaran dan pencucian uang, dengan estimasi mata uang kripto yang disita mencapai miliaran dolar.
Menurut dakwaan, organisasi yang dipimpin Chen menjalankan skema penipuan yang dikenal sebagai “pig butchering” — modus di mana korban dibujuk melalui hubungan palsu atau peluang investasi palsu, kemudian dipancing untuk mengirimkan dana dalam bentuk kripto ke platform investasi fiktif. Skema ini menyebabkan kerugian besar terhadap korban di berbagai negara, termasuk lebih dari 250 warga Amerika Serikat dengan satu korban kehilangan ratusan ribu dolar.
Selain itu, Chen dan jaringan yang dikaitkan dengannya juga dituduh melibatkan perdagangan manusia dan kerja paksa, di mana pekerja diperdaya dan ditahan di fasilitas-fasilitas di Kamboja untuk menjalankan pusat penipuan online. Banyak dari mereka dilaporkan dipaksa bekerja di bawah kondisi yang mirip perbudakan demi mempertahankan operasi kriminal.
Chen Zhi Proses Penangkapan dan Ekstradisi
Pada tanggal 6 Januari 2026, Chen Zhi ditangkap oleh otoritas Kamboja bersama dua warga negara China lainnya, Xu Ji Liang dan Shao Ji Hui, setelah penyelidikan bersama selama beberapa bulan terhadap operasi penipuan tersebut. Penangkapan ini merupakan hasil kerjasama erat antara Kamboja dan China dalam memerangi kejahatan lintas batas.
Sebelum ekstradisi dilaksanakan, pemerintah Kamboja mencabut status kewarganegaraan Chen pada Desember 2025 — sebuah langkah penting, karena warga negara Kamboja biasanya tidak dapat diekstradisi menurut hukum lokal. Langkah ini membuka jalan bagi proses pemindahan Chen ke China sesuai permintaan Beijing.
Pada 7 Januari 2026, Chen bersama dua rekannya diterbangkan ke China. Pemerintah Kamboja menyatakan tindakan ini sebagai bagian dari komitmen mereka untuk meningkatkan kerjasama internasional dalam memberantas kejahatan terorganisir lintas negara sambil menegakkan hukum domestik.
Dampak Internasional dan Reaksi Dunia
Ekstradisi Chen Zhi mendapat sorotan luas di banyak negara karena bukan sekadar tindakan hukum biasa, melainkan tanda bahwa jaringan penipuan siber besar sedang mendapat tekanan besar dari penegak hukum global. Otoritas di Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong telah mengambil tindakan terhadap aset-aset yang terkait dengan Chen, termasuk penyitaan properti mewah dan aset kripto yang bernilai miliaran dolar AS.
Press release dari Kamboja menegaskan bahwa langkah ini juga merupakan bagian dari upaya mereka untuk memperbaiki citra internasional sebagai negara yang tidak menjadi tempat perlindungan bagi pelaku kejahatan transnasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Kamboja dan negara-negara tetangga di Asia Tenggara menghadapi kritik karena meningkatnya jumlah pusat penipuan online yang beroperasi di wilayah mereka.
Sementara itu, otoritas China menyatakan akan memberikan detail lebih lanjut mengenai proses hukum yang akan dijalani Chen di pengadilan China, meskipun belum diungkap secara publik dakwaan spesifik yang akan dikenakan kepadanya di sana.
Kesimpulan
Ekstradisi Chen Zhi dari Kamboja ke China menandai babak penting dalam upaya global memerangi kejahatan finansial dan penipuan kripto terorganisir. Kasus ini menarik perhatian tidak hanya di Asia, tetapi di seluruh dunia, karena melibatkan jaringan kriminal dengan dampak finansial yang luas serta isu kemanusiaan seperti perdagangan manusia dan kerja paksa. Langkah Kamboja mengekstradisi Chen menjadi contoh nyata bagaimana kerjasama lintas negara dapat mengatasi tantangan hukum internasional yang kompleks.
