Liga Belanda atau Eredivisie pernah menjadi salah satu pusat perhatian sepak bola Eropa. Dari sanalah lahir filosofi Total Football, klub-klub legendaris seperti Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan Feyenoord, serta pemain-pemain kelas dunia yang mendominasi Eropa. Namun dalam satu dekade terakhir, pamor Eredivisie perlahan memudar. Bahkan kini, Liga Belanda mulai kalah saing dari liga yang dulu dianggap “kelas dua” seperti Liga Arab Saudi dan Liga Portugal.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Liga Belanda mulai ditinggalkan oleh pemain, sponsor, hingga sorotan global?

1. Daya Tarik Finansial yang Kian Tertinggal Liga belanda
Alasan paling nyata adalah kekuatan finansial. Liga Arab Saudi datang dengan suntikan dana nyaris tanpa batas. Klub-klub seperti Al Nassr, Al Hilal, dan Al Ittihad mampu menawarkan gaji fantastis, fasilitas mewah, serta proyek jangka panjang yang menggoda pemain bintang maupun pemain muda.
Sementara itu, Liga Portugal—meski tidak sekaya liga top Eropa—mampu menawarkan jalur karir yang lebih menjanjikan ke klub elite Eropa. Pemain yang bersinar di Porto, Benfica, atau Sporting CP sering langsung dilirik oleh klub Premier League, La Liga, hingga Serie A dengan nilai transfer besar.
Di sisi lain, klub-klub Eredivisie masih terikat pada model keuangan konservatif. Gaji relatif rendah dan keterbatasan investasi membuat mereka sulit bersaing mempertahankan pemain terbaik.
2. Eredivisie Terlalu Cepat Melepas Bintang Liga belanda
Liga Belanda dikenal sebagai “pabrik talenta”. Namun kini, citra tersebut justru menjadi bumerang. Pemain muda yang tampil impresif sering langsung dijual sebelum benar-benar matang.
Akibatnya, kualitas kompetisi sulit stabil. Setiap musim, tim-tim papan atas harus membangun ulang skuadnya. Bandingkan dengan Liga Portugal yang mampu mempertahankan bintang selama beberapa musim sebelum melepasnya dengan harga tinggi, sehingga kualitas liga tetap terjaga.
Bagi penonton global, Eredivisie menjadi kurang menarik karena minim pemain ikonik yang bertahan lama.
3. Eksposur Media dan Branding Kalah Jauh Liga belanda
Dalam era sepak bola modern, branding dan eksposur media sangat krusial. Liga Arab Saudi secara agresif membangun citra global lewat siaran internasional, media sosial, dan kehadiran megabintang. Liga Portugal unggul dalam kompetisi Eropa yang konsisten, terutama di Liga Champions dan Liga Europa.
Sebaliknya, Eredivisie kerap gagal bersaing di fase lanjut kompetisi Eropa. Prestasi klub-klub Belanda di level kontinental menurun, membuat daya tarik liga ikut tergerus.
Kurangnya narasi besar dan minim “storytelling” global membuat Eredivisie semakin tenggelam di tengah hiruk-pikuk liga lain.
4. Infrastruktur dan Daya Saing Klub Menengah
Masalah lain adalah ketimpangan daya saing. Ajax, PSV, dan Feyenoord masih dominan, sementara klub-klub menengah kesulitan naik level. Liga Portugal memiliki persaingan yang lebih seimbang di papan atas, sedangkan Liga Arab mampu memperkuat hampir semua klub besar sekaligus.
Infrastruktur stadion dan fasilitas latihan di Belanda sebenarnya cukup baik, tetapi investasi besar untuk modernisasi masih kalah dibandingkan negara lain. Ini berpengaruh pada pengalaman pemain dan penonton.
5. Perubahan Preferensi Pemain Muda
Generasi pemain muda saat ini lebih pragmatis. Mereka tidak hanya mengejar filosofi sepak bola, tetapi juga keamanan finansial, visibilitas global, dan peluang komersial. Liga Arab menawarkan uang dan popularitas instan, sementara Liga Portugal menawarkan batu loncatan strategis ke liga elite.
Eredivisie, meski kuat dalam pengembangan teknik, mulai dianggap “terlalu kecil” untuk ambisi jangka panjang banyak pemain.
6. Masih Punya Harapan?
Meski mulai ditinggalkan, bukan berarti Liga Belanda berada di ujung jalan. Akademi usia muda, filosofi bermain menyerang, dan basis suporter fanatik tetap menjadi kekuatan utama.
Namun jika ingin kembali relevan, Eredivisie harus berani beradaptasi: meningkatkan nilai komersial liga, memperbaiki strategi branding global, serta menahan pemain kunci lebih lama agar kualitas kompetisi meningkat.
Kesimpulan
Kalah saing dari Liga Arab dan Portugal bukan sekadar soal uang, tetapi soal visi, strategi, dan kemampuan beradaptasi dengan sepak bola modern. Liga Belanda berada di persimpangan jalan: tetap menjadi liga penghasil talenta semata, atau bertransformasi menjadi kompetisi yang kembali diperhitungkan di panggung dunia.
Jika tidak bergerak cepat, Eredivisie berisiko semakin tenggelam—bukan karena kehilangan identitas, tetapi karena gagal mengikuti zaman.
