Dalam beberapa pekan terakhir, dunia diguncang oleh serangkaian peristiwa dramatis di Amerika Latin yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela — negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Pada awal Januari 2026, pasukan AS melancarkan operasi militer besar yang berakhir dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan tuduhan serius terhadapnya di pengadilan Amerika. Tak lama kemudian, Washington mengambil langkah kontroversial berikutnya: mengklaim minyak Venezuela dan mengumumkan rencana pengelolaan sumber daya itu sendiri.

Amerika Serikat

Amerika Serikat Operasi Militer dan Penangkapan Maduro

Pada 3 Januari 2026, pasukan Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Venezuela dan berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Mereka kemudian dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan federal, termasuk dugaan keterlibatan dalam perdagangan narkoba dan senjata — tuduhan yang dibantah keras oleh Maduro dan pemerintahannya.

Tindakan itu memicu kecaman internasional dan protes dari banyak negara, yang menyebut operasi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan nasional dan hukum internasional. Kritikus menyebutnya “aksi koboi”, membandingkannya dengan campur tangan sepihak yang berbahaya di luar koridor hukum global.

Amerika Serikat: Siapa yang Mengendalikan Venezuela Sekarang?

Setelah penangkapan Maduro, pemerintahan sementara dipimpin oleh Delcy Rodríguez, mantan wakil presiden Venezuela yang kini ditunjuk sebagai pemimpin de facto di tengah kekosongan kekuasaan. Pemerintah transisi ini dilaporkan telah setuju untuk bekerja sama dengan Washington, termasuk menyerahkan puluhan juta barel minyak Venezuela untuk dikirim ke Amerika Serikat.

Trump sendiri mengumumkan bahwa antara 30 hingga 50 juta barel minyak Venezuela yang terkena sanksi akan diterima oleh Amerika Serikat untuk dijual di pasar global. Proceeds dari penjualan ini akan “dikontrol oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat”, tulis Trump di platformnya, menegaskan bahwa hasilnya akan memberi manfaat bagi rakyat Venezuela dan AS.

Lebih jauh lagi, Trump menyatakan bahwa AS kemungkinan bisa mendapatkan triliunan dolar dari penjualan minyak Venezuela, serta merencanakan pengembangan infrastruktur energi negara itu bersama perusahaan-perusahaan minyak Amerika.

Amerika Serikat: Strategi Penguasaan Minyak: Apa Maknanya?

Langkah ini bukan sekadar pengambilan sementara. Administrasi Trump menegaskan rencananya untuk mengendalikan penjualan minyak Venezuela “secara tak terbatas” atau setidaknya selama periode transisi, dengan hasil penjualan yang masuk ke rekening yang dikontrol AS.

Minyak Venezuela sendiri sebenarnya hanya kurang dari 1% dari produksi global saat ini, karena penurunan produksi drastis akibat masalah internal negara itu. Menurut Menteri Koordinator Ekonomi Indonesia, dampaknya terhadap pasar energi global diperkirakan kecil secara volume, meskipun langkah politiknya besar.

Namun secara geopolitik, situasi ini jauh lebih signifikan. Venezuela selama ini telah menjadi pemasok minyak penting bagi China, Kuba, Iran, dan sekutu lainnya, memberi mereka akses energi dalam kondisi diskon atau di bawah kerangka kerja kerja sama panjang. Pengambilalihan minyak Venezuela oleh AS dimaksudkan untuk memutus hubungan itu dan memperlemah kekuatan politik rival-rival Washington.

Bagaimana Dunia Bereaksi?

Menariknya, meskipun berita ini mendominasi headline internasional, respons global tidak seragam dan tampak relatif terpecah:

– Negara-negara Barat & Sekutu AS

Banyak negara Barat cenderung bersikap hati-hati. Beberapa politisi di Eropa dan Asia menegaskan pentingnya menghormati hukum internasional dan menekankan bahwa tindakan sepihak dapat menciptakan preseden berbahaya di masa depan.

– Blok Negara Berkembang & ALBA

Venezuela memiliki sekutu kuat di Amerika Latin dan negara-negara berkembang lainnya yang mengecam tindakan AS. Pemerintah di region ALBA dan sekutu lama Maduro menyebut operasi AS sebagai aksi agresi yang melanggar Piagam PBB, dan memperingatkan konsekuensi destabilisasi di Hemisfer Barat.

– Rusia & China

Rusia baru-baru ini mengeluarkan kecaman keras, menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran hukum laut dan tindakan neo-kolonialisme. Sikap serupa juga muncul dari China yang menegaskan bahwa Venezuela berdaulat penuh atas sumber daya alamnya dan menolak campur tangan asing — meskipun Beijing tetap mengelola kerjasama diplomatik di forum internasional utama.

Dunia Diam? Nyatanya Tidak.

Meski beberapa negara tidak bersikap sangat vokal, itu bukan berarti dunia “diam”. Kritik terhadap AS datang dari berbagai penjuru, termasuk pernyataan dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin tentang pentingnya aturan hukum internasional dan penolakan terhadap intervensi militer unilateral. Selain itu, PBB dan organisasi regional seperti Uni Afrika dan ASEAN telah menyerukan dialog damai, penghormatan pada kedaulatan, dan penolakan eskalasi militer. Meski tidak semuanya tajam, response ini menunjukkan global concern.

Kesimpulan

Peristiwa di Venezuela awal 2026 bukan sekadar berita sensasional—itu merupakan titik balik besar dalam politik dunia. AS berhasil menangkap seorang kepala negara berkuasa dan kini mengklaim kontrol atas salah satu sumber daya strategis terbesar di dunia. Namun, meskipun ada laporan bahwa pasar energi global mungkin tidak banyak berubah, implikasi politik dan hukum internasional jauh lebih besar.

Dengan gesekan geopolitik terus berjalan dan reaksi dunia yang beragam, peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kekuatan besar beroperasi dalam era modern dan sejauh mana prinsip kedaulatan dan hukum internasional diuji.