SEA Games 2025 di Thailand menjadi panggung besar bagi olahraga Asia Tenggara. Dari sepak bola hingga wushu, puluhan cabang olahraga memunculkan juara baru dan kembali menegaskan dominasi tradisional beberapa negara. Namun di tengah berbagai keberhasilan kontingen Indonesia yang meraih banyak medali emas, cabang olahraga biliar justru menjadi catatan pahit yang menarik untuk dibahas.

Tragedi di Arena Biliar

Di ajang Southeast Asian Games ke-33 yang berlangsung di Bangkok dan daerah sekitarnya, performa atlet biliar Indonesia jauh dari harapan. Meski biliar dikenal sebagai salah satu olahraga yang pernah menyumbang prestasi membanggakan di tingkat regional, fakta di lapangan menunjukkan kenyataan berbeda pada SEA Games kali ini.

Beberapa atlet Indonesia yang berlaga di kelas snooker dan biliar harus menerima kekalahan di babak awal hingga semifinal. Misalnya, dalam cabang snooker 6-Red tunggal putra, Dhendy Khristanto harus menyerah tipis 4–5 dari wakil Filipina Michael Mengorio meskipun sempat unggul pada frame awal. Di sisi lain, pebiliar putri Yohana Annabella harus mengakui dominasi lawannya dari Thailand dengan skor telak 0–3 di semifinal snooker tunggal putri.

Kekalahan seperti ini menjadi sorotan karena biliar, meskipun bukan cabang unggulan seperti bulu tangkis atau angkat besi di Indonesia, tetap dianggap memiliki potensi untuk meraih medali—minimal perunggu—di kompetisi regional seperti SEA Games.

Perbandingan dengan Cabang Olahraga Lain

Untuk memberi konteks, Indonesia secara keseluruhan justru tampil kuat di banyak cabang olahraga lain. Tim wushu, misalnya, menunjukkan dominasinya dengan meraih lima emas, tiga perak, dan satu perunggu, menjadikan Indonesia sebagai juara umum di cabang ini. Sementara secara keseluruhan, tim Indonesia mengumpulkan puluhan medali emas dan berada di peringkat atas klasemen medali selama SEA Games berlangsung.

Prestasi gemilang ini kontras tajam dengan apa yang terjadi di arena biliar, di mana para atlet Indonesia justru gagal memenuhi ekspektasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sumber daya latihan dan dukungan negara cukup, tidak semua cabang bisa berkembang optimal setiap kali kompetisi besar digelar.

Penyebab Kekalahan: Permainan, Tekanan, dan Strategi?

Kekalahan Indonesia di biliar tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai hasil buruk semata—ada sejumlah faktor penyebab yang mungkin berkontribusi:

1. Kualitas Lawan yang Meningkat

Negara seperti Thailand dan Filipina dikenal sebagai kekuatan biliar di Asia Tenggara. Thailand secara konsisten menghasilkan pebiliar dengan performa tinggi di berbagai turnamen internasional, begitu juga Filipina yang punya tradisi kuat di . Tingginya kompetisi di kawasan bisa membuat jalan menuju medal podium jadi jauh lebih sulit.

2. Tekanan Turnamen Besar

SEA Games adalah panggung besar dengan sorotan regional — tekanan psikologis bisa berdampak pada performa atlet, terutama di fase krusial seperti babak knockout. Beberapa frame sempat menunjukkan betapa rapuhnya konsistensi pemain Indonesia di pertandingan penting seperti semifinal atau duel head-to-head lawan Thailand.

3. Pengembangan Jangka Panjang

Berbeda dengan olahraga bulu tangkis atau wushu yang punya sistem pembinaan kuat, Indonesia mungkin belum memiliki pipeline pengembangan atlet seluas dan sedalam cabang lain. Ini termasuk aspek pelatnas, coaching, eksposur internasional, hingga dukungan psikologis dan statistik performa.

Dampak di Kalangan Pecinta Biliar Tanah Air

Kekalahan ini tentu mengecewakan banyak penggemar biliar di Indonesia. Sepanjang hidup prestasi biliar Indonesia pernah mendapat sorotan lewat nama-nama yang berhasil bersinar di luar negeri atau turnamen regional. Namun hasil di SEA Games 2025 memberikan pelajaran: Indonesia masih harus dibenahi dari nol, tak cukup hanya berharap pada talenta individu yang mampu bersinar tanpa dukungan sistem yang matang.

Apa Arti Kekalahan Ini Untuk Masa Depan?

Kekalahan di SEA Games 2025 bisa dipandang sebagai “alarm” bagi pengurus olahraga di Indonesia. Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan ke depan:

  • Evaluasi Pelatihan dan Pembinaan
    Meningkatkan kualitas pelatih, memperluas kamp pelatihan, dan memberi eksposur internasional lebih sering untuk pebiliar muda.
  • Investasi pada Infrastruktur Kompetisi
    Menciptakan lebih banyak turnamen domestik berkelas dan mendatangkan pelatih serta pemain asing untuk mentransfer pengetahuan teknis dan strategi.
  • Pendekatan Sports Science
    Melibatkan aspek psikologi olahraga dan analisis data performa untuk membantu pemain mengatasi tekanan kompetitif besar.

Jika hal-hal tersebut diperhatikan serius, bukan tak mungkin di SEA Games mendatang atau di ajang internasional lain, biliar Indonesia akan bangkit dengan generasi atlet yang lebih siap dan tangguh secara mental maupun teknis.

Penutup: Lebih dari Sekadar Kekalahan

Meski hasil SEA Games 2025 tidak sesuai harapan untuk cabang biliar, ini bisa menjadi momentum refleksi dan perbaikan. Indonesia masih membanggakan prestasi di banyak cabang olahraga, bahkan berada di puncak klasemen medali di sejumlah disiplin di ajang tersebut.

Kekalahan besar dalam biliar bukan akhir dari segalanya, melainkan ajakan untuk membangun ulang strategi pembinaan agar atlet masa depan bisa bersaing — tidak hanya di SEA Games, tetapi juga di kejuaraan dunia. Dengan pendekatan yang matang dan dukungan yang konsisten, Indonesia punya peluang untuk kembali berjaya, bukan hanya di hati para penggemarnya, tetapi juga di panggung olahraga internasional.