Liga Belanda atau Eredivisie pernah menjadi salah satu pusat gravitasi sepak bola dunia. Di era 1970-an hingga awal 2000-an, kompetisi ini identik dengan filosofi Total Football, pengembangan pemain muda kelas dunia, serta klub-klub yang disegani di Eropa. Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan Feyenoord menjadi simbol kejayaan sepak bola Belanda. Namun kini, pamor terasa kian meredup. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Liga Belanda?

Total Football di Eredivisie

Warisan Besar Total Football di Eredivisie

Tak bisa membahas Liga Belanda tanpa menyebut Total Football. Filosofi yang dipopulerkan Rinus Michels dan Johan Cruyff ini menjadikan sepak bola Belanda unik: dinamis, kolektif, dan sarat kecerdasan taktik. Eredivisie menjadi laboratorium ide-ide revolusioner, tempat lahirnya pemain legendaris seperti Johan Cruyff, Marco van Basten, Dennis Bergkamp, hingga generasi modern seperti Wesley Sneijder dan Arjen Robben.

Pada masanya, klub-klub Belanda bukan hanya penghasil talenta, tetapi juga penantang serius di kompetisi Eropa. Ajax menjuarai Liga Champions beberapa kali, PSV dan Feyenoord juga pernah berjaya. Eredivisie dihormati, ditakuti, dan dijadikan rujukan pengembangan sepak bola modern.

Jurang Finansial yang Makin Dalam di Eredivisie

Salah satu faktor utama meredupnya Liga Belanda adalah masalah finansial. Ketika Premier League, La Liga, dan Bundesliga mengalami lonjakan pendapatan dari hak siar dan sponsor global, tertinggal jauh. Nilai hak siar domestik dan internasional Liga Belanda relatif kecil, membuat klub sulit bersaing dalam mempertahankan pemain bintang.

Akibatnya, Eredivisie berubah menjadi “liga transit”. Pemain muda berbakat hanya bertahan satu atau dua musim sebelum hijrah ke liga yang lebih kaya. Klub memang mendapatkan keuntungan dari penjualan pemain, tetapi kehilangan daya tarik kompetisi dalam jangka panjang.

Dominasi yang Terlalu Monoton

Masalah lain adalah kurangnya persaingan ketat di papan atas. Dalam beberapa dekade terakhir, Eredivisie didominasi oleh klub-klub yang itu-itu saja, terutama Ajax dan PSV. Feyenoord sesekali memutus dominasi, tetapi secara umum peta kekuatan relatif stagnan.

Kurangnya kejutan membuat minat penonton global menurun. Liga yang menarik biasanya menghadirkan ketidakpastian dan drama hingga akhir musim. sayangnya, sering dianggap terlalu mudah ditebak, terutama dalam perburuan gelar.

Akademi Hebat, Tapi Jadi Korban di Eredivisie

Ironisnya, kekuatan utama Liga Belanda justru menjadi kelemahannya. Akademi-akademi Eredivisie tetap termasuk yang terbaik di dunia. Ajax, AZ Alkmaar, dan PSV terus memproduksi pemain muda berkualitas tinggi. Namun, sistem ini kini lebih menguntungkan liga lain.

Ketika pemain muda Belanda atau talenta asing berkembang pesat, klub-klub besar Eropa langsung datang dengan tawaran menggiurkan. Eredivisie kehilangan kesempatan membangun ikon jangka panjang yang bisa mendongkrak popularitas liga.

Prestasi Eropa yang Menurun di Eredivisie

Jika dulu klub Belanda rutin melangkah jauh di Liga Champions, kini situasinya berbeda. Eredivisie lebih sering berkutat di Liga Europa atau Conference League. Meski ada momen kebangkitan seperti Ajax mencapai semifinal Liga Champions 2018/2019, itu lebih terasa sebagai pengecualian daripada tren baru.

Koefisien UEFA liga belanda pun terdampak, membuat jatah wakil di kompetisi elite Eropa semakin terbatas. Lingkaran setan pun terbentuk: minim prestasi, minim pemasukan, dan kembali minim daya saing.

Apakah Eredivisie Benar-Benar Habis?

Meski terlihat meredup, menyebut Liga Belanda “habis” jelas berlebihan. Liga belanda masih memiliki identitas kuat, filosofi sepak bola yang jelas, serta sistem pengembangan pemain yang dikagumi dunia. Banyak pengamat justru melihat liga belanda sebagai liga pendidikan, bukan liga hiburan global.

Tantangan ke depan adalah bagaimana Liga Belanda beradaptasi dengan realitas sepak bola modern tanpa kehilangan jati diri. Inovasi pemasaran, distribusi pendapatan yang lebih merata, serta keberanian mempertahankan talenta lebih lama bisa menjadi kunci kebangkitan.

Antara Romantisme dan Realita

Liga Belanda kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada romantisme Total Football dan sejarah kejayaan. Di sisi lain, ada realita industri sepak bola modern yang menuntut kekuatan finansial dan daya tarik global.

Eredivisie mungkin tak lagi menjadi pusat perhatian dunia, tetapi perannya tetap vital dalam ekosistem sepak bola global. Meredup, ya. Hilang, belum tentu. Justru dari keterbatasan inilah, Liga Belanda bisa kembali melahirkan kejutan—seperti yang pernah mereka lakukan di masa lalu.