Konflik Thailand dan Kamboja Pada tahun 2025, hubungan antara Thailand dan Kerajaan Kamboja memasuki salah satu periode paling tegang dalam sejarah modern kedua negara. Tensi yang semula bersumber dari sengketa teritorial perbatasan memuncak menjadi bentrokan bersenjata yang melibatkan artileri, serangan udara, dan aksi militer lainnya di sepanjang garis perbatasan kedua negara. Apa yang terjadi pada tahun itu dipandang oleh banyak analis sebagai eskalasi serius yang berpotensi mengubah dinamika keamanan di Asia Tenggara.


Latar Belakang Konflik Thailand dan Kamboja

Historis Dispute dan Titik Pemicu

Konflik Thailand dan Kamboja bukanlah hal baru. Sengketa wilayah perbatasan, terutama di sekitar situs-situs budaya seperti Preah Vihear, telah berlangsung selama beberapa dekade dan menjadi sumber ketegangan berkepanjangan. Perselisihan ini berakar pada perbedaan interpretasi batas yang diwariskan dari era kolonial dan sejumlah putusan hukum internasional yang menguatkan klaim masing-masing negara terhadap area tertentu

Keadaan berubah drastis pada pertengahan 2025, ketika insiden militer kecil bermula di wilayah perbatasan yang disengketakan. Dari sini, eskalasi terjadi cepat, dengan serangkaian bentrokan bersenjata yang makin sering dan lebih intens daripada sebelumnya.

Peristiwa Juli 2025: Bentrokan Skala Besar

Pada 24 Juli 2025, konflik meletus dengan kekuatan penuh ketika pasukan dari kedua negara saling menembakkan artileri, senjata berat, dan kemudian melibatkan serangan udara. Dalam beberapa hari, pertempuran telah terjadi di lebih dari satu lusin titik sepanjang perbatasan, dengan militer Thailand menuduh pasukan Kamboja memulai serangan dan sebaliknya.

Bentrokan ini menyebabkan korban di pihak militer dan sipil, dengan puluhan orang meninggal dan ratusan ribu penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk menghindari zona perang.


Kronologi Eskalasi Konflik dan Tuduhan Penyerangan

Konflik Kembali Memanas Akhir 2025

Setelah beberapa bulan relatif tenang dengan gencatan senjata yang dimediasi—termasuk perjanjian yang dijembatani oleh pihak internasional seperti Amerika Serikat dan ASEAN—pertikaian kembali mencuat pada Desember 2025. Militer Thailand digambarkan melakukan operasi militer kembali termasuk aksi tembakan artileri dan serangan udara terhadap target di wilayah Kamboja, meskipun kedua pihak saling tuduh menembakkan serangan pertama.

Laporan dari media internasional menyebutkan bahwa Royal Thai Navy bahkan ditempatkan untuk menghentikan kapal yang mengangkut bahan bakar dan pasokan militer menuju wilayah Kamboja di Teluk Thailand, menandakan perluasan konflik dari darat ke laut.

Tuduhan Serangan Udara dan Dampak Sipil

Pihak Kamboja mengklaim bahwa serangan udara Thailand menghantam wilayah perbatasan, termasuk daerah pemukiman yang menyebabkan kematian warga sipil. Klaim tersebut, menurut laporan, menggambarkan setidaknya empat warga sipil Kamboja tewas dan lainnya terluka sebagai akibat dari aksi militer Bangkok di sepanjang perbatasan

Thailand, di sisi lain, menyatakan bahwa serangan itu diarahkan terhadap pos militer atau target logistik yang digunakan oleh pasukan Kamboja, menurut pernyataan resmi militer Bangkok yang menyatakan aksi tersebut sebagai bagian dari operasi defensif untuk menghentikan tembakan dan pelanggaran gencatan senjata.


Reaksi Internasional dan Upaya Perdamaian Konflik Thailand dan Kamboja

Mediator Internasional Konflik Thailand dan Kamboja

Konflik Thailand dan Kamboja ini menarik perhatian komunitas internasional. Beberapa negara serta organisasi regional dan global berusaha menengahi. China mengirim utusan diplomatik untuk mendorong gencatan senjata yang lebih stabil antara kedua negara, setelah eskalasi konflik akhir tahun ini mengancam perdamaian di kawasan ASEAN.

Sementara itu, negara-negara seperti Malaysia dan Amerika Serikat sebelumnya terlibat dalam pertemuan mediasi yang menengahi gencatan senjata awal pada tahun 2025, walaupun serangan baru di bulan Desember menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan tersebut.

Tanggapan ASEAN dan Seruan untuk Gencatan Senjata

Para pemimpin ASEAN menyerukan penghentian kekerasan dan kembali ke dialog diplomatik. Thailand meminta Kamboja untuk mengumumkan gencatan senjata secara unilateral sebagai langkah awal menuju perundingan yang lebih luas. Namun, respons dari Phnom Penh terhadap permintaan ini tetap terbatas.


Dampak Kemanusiaan dan Geopolitik

Korban dan Pengungsian Konflik Thailand dan Kamboja

Konflik bersenjata ini membawa dampak besar bagi warga sipil di kedua sisi perbatasan. Perkiraan terbaru menyebutkan bahwa lebih dari 500.000 warga Kamboja telah mengungsi akibat tembakan artileri, serangan udara, dan bentrokan darat yang terjadi di sepanjang garis perbatasan.

Krisis kemanusiaan seperti ini tidak hanya memengaruhi akses terhadap makanan dan layanan kesehatan, tetapi juga memicu keresahan yang lebih luas di wilayah Asia Tenggara, yang selama ini relatif damai dalam konteks hubungan bilateral antarnegara.

Ketegangan Geopolitik dan ASEAN

Selain dampak lokal, konflik ini mengguncang dinamika diplomatik di Asia Tenggara. ASEAN, yang secara tradisional mengedepankan pendekatan konsensus, harus menghadapi tantangan besar dalam menyelesaikan perselisihan bersenjata antara dua negara anggota. Situasi ini menguji kapasitas organisasi untuk merespons konflik bersenjata di kawasan yang selama ini sebagian besar stabil


Kesimpulan

Peristiwa penyerangan dan eskalasi militer Thailand terhadap Kamboja pada 2025 merupakan hasil dari ketegangan panjang yang dipicu oleh sengketa wilayah serta interpretasi sejarah teritori yang berbeda. Meskipun kedua negara saling tuduh memulai aksi militer, yang jelas konflik ini berkembang menjadi serangkaian bentrokan darat, laut, dan udara yang menimbulkan korban jiwa serta kerusakan besar, serta memicu krisis kemanusiaan yang meluas

Negosiasi damai dan mediasi internasional tetap menjadi harapan terbaik bagi stabilitas kawasan, namun situasi akhir tahun 2025 menunjukkan betapa rapuhnya perjanjian gencatan senjata jika akar permasalahan tidak diselesaikan secara menyeluruh.