Pertandingan antara AS Roma dan AC Milan pada akhir pekan lalu di Stadio Olimpico merupakan salah satu laga yang paling dinantikan dalam Serie A musim 2026. Kedua tim besar ini datang dengan penuh motivasi untuk meraih tiga poin, dengan tujuan untuk tetap bersaing di papan atas klasemen. Dalam laga yang berlangsung sengit ini, José Mourinho dari Roma dan Stefano Pioli dari Milan kembali menunjukkan kecerdikan taktik mereka, menghasilkan pertandingan yang penuh intrik. Pada akhirnya, AS Roma berhasil mengamankan kemenangan tipis 1-0 berkat gol dari Paulo Dybala.

Tinjauan Pertandingan AS Roma vs AC Milan

Pertandingan ini bukan hanya sekadar pertarungan dua tim besar, tetapi juga pertarungan antara dua pelatih yang dikenal dengan pendekatan taktis mereka yang sangat berbeda. AS Roma yang mengandalkan strategi bertahan solid dan serangan balik cepat, menghadapi AC Milan yang terkenal dengan permainan agresif, penguasaan bola, dan serangan terstruktur. Sejak awal laga, kedua tim sudah menunjukkan niat untuk menguasai permainan, namun strategi masing-masing tim menentukan jalannya pertandingan.

Taktik AS Roma: Bertahan dan Menyerang Cepat

José Mourinho, pelatih AS Roma, memilih untuk memainkan formasi 3-4-2-1, yang menekankan pada pertahanan solid dan kecepatan dalam serangan balik. Dengan memanfaatkan lini belakang yang kokoh, di mana Chris Smalling, Gianluca Mancini, dan Marash Kumbulla bertindak sebagai bek tiga, Roma berusaha menahan gempuran Milan yang dikenal dengan serangan cepat dan umpan-umpan akurat.

Pengendalian Lini Tengah dan Serangan Balik

Lini tengah Roma yang dikendalikan oleh Bryan Cristante dan Leandro Paredes memiliki tugas besar untuk menahan penguasaan bola Milan. Mereka berdua bekerja keras untuk memutus aliran bola ke depan dan mencegah pemain Milan seperti Rafael Leão dan Charles De Ketelaere mengembangkan permainan mereka.

Sementara itu, Paulo Dybala dan Lorenzo Pellegrini berperan sebagai pemain kreatif di lini serang, yang mampu memberikan ancaman dari posisi yang lebih dalam. Dybala, yang lebih sering turun untuk mengambil bola, menjadi jembatan antara lini tengah dan lini depan, sementara Pellegrini lebih banyak bergerak di antara bek Milan untuk menciptakan peluang.

Strategi utama Roma dalam pertandingan ini adalah menunggu kesalahan Milan dan memanfaatkan ruang yang terbuka untuk melakukan serangan balik cepat. Tammy Abraham juga berperan penting dalam serangan balik ini dengan lari-lari cepat dan kemampuan penguasaan bola yang baik di depan gawang.

Strategi AC Milan: Penguasaan Bola dan Tekanan Tinggi

Di sisi lain, Stefano Pioli, pelatih AC Milan, menginstruksikan timnya untuk menguasai bola sebanyak mungkin dan menekan Roma sejak awal. Milan memulai pertandingan dengan formasi 4-2-3-1, dengan Olivier Giroud sebagai ujung tombak dan Rafael Leão serta Charles De Ketelaere beroperasi di sayap. Lini tengah Milan yang terdiri dari Ismaël Bennacer dan Sandro Tonali bekerja keras untuk mengontrol jalannya permainan, sementara bek sayap seperti Theo Hernández dan Davide Calabria sering naik untuk memberi dukungan serangan.

Menekan dan Memaksimalkan Serangan Sayap

Milan tampil dengan permainan yang menekankan pada penguasaan bola dan pergerakan cepat dari sayap. Leão menjadi ancaman utama dengan kecepatan dan dribblingnya, sementara De Ketelaere berperan sebagai pemain kreatif yang dapat menciptakan peluang bagi Giroud. Milan berusaha untuk menekan Roma, yang mereka anggap lebih rentan jika diserang dengan intensitas tinggi.

Namun, meskipun Milan lebih banyak menguasai bola dengan hampir 65% penguasaan bola, mereka kesulitan untuk menembus pertahanan solid Roma. Meskipun ada beberapa peluang dari Leão dan Giroud, pertahanan Roma yang disiplin berhasil menahan gempuran tersebut.

Momen Kunci yang Mengubah Jalannya Pertandingan

Walaupun AC Milan lebih dominan dalam hal penguasaan bola, AS Roma berhasil mencuri gol pada menit ke-62 melalui Paulo Dybala. Gol ini tercipta setelah sebuah serangan balik cepat yang dimulai dari lini tengah. Dybala, yang mendapatkan umpan matang dari Pellegrini, berhasil menembus pertahanan Milan dan melepaskan tembakan melengkung yang tidak bisa dijangkau oleh kiper Mike Maignan.

Gol ini membuat Milan semakin agresif dalam menyerang, namun mereka kesulitan untuk mencetak gol balasan. Giroud dan Leão beberapa kali mendapatkan peluang, tetapi penyelesaian akhir mereka kurang tepat atau berhasil digagalkan oleh Rui Patricio, penjaga gawang Roma.

Taktik Pertahanan Solid Roma

Setelah mencetak gol, Roma memilih untuk memperkuat lini pertahanan dengan mengganti Paredes dan Cristante dengan pemain bertahan lebih defensif. Mourinho menginstruksikan tim untuk lebih bertahan, menggunakan blok defensif yang rapat, dan hanya mengandalkan serangan balik sesekali. Roma mengatur jarak antar pemain dengan sangat baik, meminimalkan ruang bagi Milan untuk menembus pertahanan mereka.

Milan, meski berusaha menekan, tidak mampu menemukan cara untuk merobek pertahanan Roma. Beberapa peluang terakhir dari Brahim Díaz dan Tonali juga gagal mencapai tujuan, berkat ketangguhan lini belakang Roma yang dipimpin oleh Smalling dan Mancini.

Faktor Mentalitas dan Pengalaman dalam Pertandingan Ini

Salah satu faktor penting yang membuat AS Roma berhasil mempertahankan keunggulan adalah mentalitas dan pengalaman pemain. José Mourinho yang dikenal sebagai ahli strategi dalam pertandingan-pertandingan besar, berhasil membuat Roma tetap tenang meskipun Milan menekan secara intens. Para pemain Roma menunjukkan kedewasaan dalam bertahan dan disiplin dalam melaksanakan instruksi dari pelatih.

Di sisi lain, meskipun AC Milan mendominasi permainan, mereka gagal memanfaatkan peluang yang ada. Pengalaman bermain di laga-laga besar seperti ini sepertinya belum cukup bagi Milan untuk mengatasi pertahanan solid Roma, yang justru terlihat lebih siap menghadapinya.

Penutup

Pertandingan antara AS Roma dan AC Milan ini menunjukkan bahwa taktik dan mentalitas dalam pertandingan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. José Mourinho sekali lagi membuktikan keahliannya dalam meracik strategi bertahan yang efektif dan memanfaatkan serangan balik dengan maksimal. Di sisi lain, meskipun Stefano Pioli sudah menerapkan strategi menyerang yang bagus, AC Milan gagal memecah pertahanan Roma yang solid.

Kemenangan ini sangat berarti bagi AS Roma, yang kini semakin memperbaiki posisi mereka di klasemen Serie A. Bagi Milan, meskipun dominasi bola mereka cukup impresif, mereka harus belajar untuk lebih efektif dalam memanfaatkan peluang dan meningkatkan ketajaman di depan gawang.

Laga ini menegaskan bahwa dalam sepak bola, keseimbangan antara pertahanan yang solid dan serangan yang efektif adalah kunci utama untuk meraih kemenangan, dan dalam hal ini, Roma lebih unggul dalam kedua aspek tersebut.