Eredivisie pernah menjadi simbol sepak bola modern. Dari Total Football yang revolusioner hingga lahirnya legenda-legenda dunia, liga kasta tertinggi Belanda ini sempat berdiri sejajar dengan kompetisi elite Eropa. Namun kini, di tengah gemerlap Premier League, dominasi La Liga, serta kebangkitan liga-liga kaya seperti Liga Arab Saudi, pamor liga belanda kian memudar. Ironisnya, satu hal tetap bertahan: aliran talenta muda yang tak pernah berhenti.

Pabrik Bintang yang Tak Pernah Mati Eredivisie
Tak ada yang meragukan kualitas akademi klub-klub Belanda. Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan Feyenoord terus melahirkan pemain-pemain berbakat yang kelak bersinar di panggung besar Eropa. Filosofi sepak bola menyerang, keberanian memainkan pemain muda, serta sistem pembinaan yang rapi menjadi fondasi kuat Eredivisie.
Nama-nama seperti Frenkie de Jong, Matthijs de Ligt, Cody Gakpo, hingga Xavi Simons menjadi bukti nyata. Mereka meniti karier di Belanda sebelum melompat ke liga yang lebih besar. Liga belanda masih menjadi “ruang kelas” terbaik bagi pemain muda, tempat belajar tanpa tekanan berlebihan namun dengan tuntutan teknis tinggi.
Namun di balik keberhasilan ini, muncul paradoks besar: liga justru kehilangan daya tarik karena terlalu cepat melepas bintangnya.
Eredivisie Terjebak dalam Model “Liga Transit”
Eredivisie kini identik sebagai liga transit. Pemain datang, bersinar satu atau dua musim, lalu hengkang ke Inggris, Jerman, atau Spanyol. Dari sudut pandang bisnis, ini masuk akal. Klub-klub Belanda bergantung pada penjualan pemain untuk menjaga stabilitas finansial.
Masalahnya, siklus ini membuat kualitas kompetisi sulit berkembang. Fans jarang melihat tim terbaik bertahan dalam jangka panjang. Rivalitas kehilangan intensitas karena skuad selalu berubah. Klub sulit membangun identitas kuat di Eropa karena setiap kali mulai kompetitif, mereka harus “reset” lagi.
Berbeda dengan liga top Eropa yang mampu mempertahankan pemain bintang, Eredivisie seakan terjebak pada peran pendukung ekosistem sepak bola global.
Jurang Finansial yang Kian Melebar
Akar persoalan Eredivisie tak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi. Hak siar domestik dan internasional liga Belanda jauh tertinggal dibanding Premier League atau bahkan Bundesliga. Akibatnya, klub-klub Eredivisie tak mampu bersaing dalam urusan gaji maupun biaya transfer.
Ketika liga-liga kaya datang dengan tawaran fantastis, Eredivisie nyaris tak punya daya tawar. Bahkan klub papan atas Belanda kini harus bersaing dengan liga non-tradisional seperti MLS atau Liga Arab Saudi dalam mempertahankan pemainnya.
Jurang ini bukan hanya soal uang, tapi juga eksposur. Pemain muda melihat Eredivisie sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir.
Prestasi Eropa yang Tak Konsisten
Meski sesekali muncul kejutan—seperti Ajax yang menembus semifinal Liga Champions 2018/2019—Eredivisie kesulitan menjaga konsistensi di kompetisi Eropa. Ketergantungan pada pemain muda membuat performa klub naik-turun.
Saat satu generasi emas pergi, butuh waktu untuk membangun ulang. Di sisi lain, klub-klub Eropa lain berkembang dengan skuad matang dan kedalaman pemain yang lebih baik. Hal ini semakin mempertegas posisi liga belanda di lapis kedua peta sepak bola Eropa.
Identitas vs Realitas Zaman
Eredivisie berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, mempertahankan identitas sebagai liga pengembang talenta adalah kekuatan utama. Di sisi lain, jika terus kehilangan pamor, liga berisiko semakin tersisih dari perhatian global.
Pertanyaannya: apakah liga belanda ingin tetap menjadi “akademi dunia” atau mulai berbenah untuk kembali kompetitif secara struktural? Inovasi pemasaran, kerja sama internasional, serta distribusi finansial yang lebih sehat bisa menjadi langkah awal.
Belanda memiliki sejarah, filosofi, dan DNA sepak bola yang kuat. Tantangannya kini adalah menyesuaikan diri dengan realitas sepak bola modern tanpa kehilangan jati diri.
Masa Depan yang Masih Bisa Diselamatkan
Meski pamor Eredivisie memudar, harapan belum hilang. Selama talenta terus mengalir, liga ini tetap relevan. Namun tanpa strategi jangka panjang, liga belanda akan selamanya berada di bayang-bayang liga besar.
Persimpangan jalan ini menuntut keberanian: berubah tanpa melupakan akar. Jika berhasil, Eredivisie bukan hanya akan dikenal sebagai tempat lahirnya bintang, tetapi juga sebagai liga yang kembali diperhitungkan.
