:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5442513/original/012446300_1765540937-20251212BL_Timnas_Indonesia_U-22_Vs_Myanmar_SEA_Games_2025-13.jpg)
Timnas Indonesia U-22 Gagal Total di SEA Games 2025
Chiang Mai, Thailand — Harapan besar publik sepak bola Indonesia pupus lebih cepat dari yang diperkirakan. Timnas Indonesia U-22 yang berstatus juara bertahan SEA Games harus pulang tanpa medali setelah gagal lolos dari fase grup SEA Games 2025. Hasil ini menjadi salah satu kekecewaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, terutama mengingat ekspektasi tinggi sebelum turnamen dimulai.
Performa Buruk yang Mengejutkan
Dalam pertandingan pembuka, Indonesia kalah 0-1 dari Filipina, sebuah hasil yang langsung menempatkan tim dalam tekanan besar untuk lolos ke babak berikutnya. Meskipun kemudian Indonesia menang 3-1 atas Myanmar, kemenangan itu tidak cukup untuk menyelamatkan laju ke semifinal karena kalah produktivitas gol dibandingkan calon runner-up terbaik lainnya.
Kondisi tersebut membuat skuad Garuda Muda tidak meraih medali sama sekali — sebuah pencapaian yang jauh dari target yang semula disampaikan oleh PSSI.
Target Emas, Hasil Nol
Jelang keberangkatan, PSSI menetapkan target tinggi kepada timnas U-22: mendapatkan medali emas dan mempertahankan gelar juara SEA Games. Target ini bahkan sempat dianggap sebagai “obat” atas kegagalan tim senior lolos ke Piala Dunia 2026.
Namun kenyataannya justru sinis — target itu gagal total. Hasil buruk ini pun menjadi bahan bahan kritik keras bukan hanya kepada pelatih dan pemain, tetapi juga struktur organisasi yang menaungi tim.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
1. Kritik pada Pengurus PSSI
Sorotan publik dan pengamat saat ini mengarah tajam kepada Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, yang sejak awal menjadi penanggung jawab utama timnas U-22 di ajang ini. Akmal Marhali (pendiri Save Our Soccer) bahkan menyebut kegagalan ini sebagai cermin dari masalah tata kelola dan pengambilan keputusan yang buruk di internal PSSI.
Binder Singh, pengamat sepak bola lainnya, menegaskan bahwa karena Amali mengusung target emas dan memiliki kontrol penuh atas pemilihan pelatih serta persiapan, maka Amali lah yang paling layak dimintai pertanggungjawaban atas hasil mengecewakan ini.
Tak hanya itu, unggahan eks-officer PSSI Arya Sinulingga di media sosial yang mengatakan “urusan timnas sepak bola putra saya tidak mengerti” semakin memperuncing persepsi bahwa koordinasi dan kepemimpinan di PSSI sedang bermasalah.
2. Evaluasi terhadap Pelatih dan Strategi
Di sisi teknis, pelatih Indra Sjafri juga menerima kritik tajam dan bahkan mengakui bahwa hasil tidak sesuai harapan. Ia menyatakan permohonan maaf kepada publik dan siap dievaluasi.
Namun, banyak analis mempertanyakan keputusan memilih kembali Indra Sjafri sebagai juru taktik di SEA Games, mengingat persaingan ketat di tingkat kawasan dan banyak pilihan pelatih lain yang mungkin dapat membawa tim bermain lebih progresif.
Reaksi Publik dan Politik Sepak Bola Indonesia
Kegagalan total ini memancing reaksi dari berbagai pihak — dari pengamat independen hingga pejabat legislatif. Wakil Ketua Komisi X DPR RI menyatakan publik berhak kecewa dan meminta evaluasi menyeluruh terhadap program sepak bola nasional.
Banyak yang menilai bahwa sepak bola Indonesia sedang memasuki era kegelapan jika tidak segera ada pembenahan struktural yang serius, bukan hanya sekadar ganti pelatih atau evaluasi permukaaan saja.

Ketum PSSI — Ada di Mana?
Meski sorotan terbesar kini tertuju kepada Amali, publik juga mempertanyakan peran Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dalam mengarahkan arah dan kebijakan tim nasional. Erick sebelumnya pernah menargetkan prestasi tinggi untuk timnas U-23 di kompetisi lain, namun tidak terdengar suara tegas darinya di SEA Games kali ini.
Ketika Indonesia menghadapi masalah besar, seolah ketua umum PSSI minim muncul di permukaan untuk memberi kejelasan kepada suporter dan stakeholder sepak bola Indonesia — sebuah hal yang membuat suasana makin memanas di kalangan fans dan media.
Kesimpulan: Titik Balik Sepak Bola Indonesia
Gagalnya Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025 bukan hanya soal hasil pertandingan — tetapi soal kepercayaan terhadap sistem, perencanaan, dan kepemimpinan sepak bola nasional. Pelajaran ini harus menjadi momentum evaluasi total agar kejadian serupa tak terulang di masa depan.
Jika tidak segera ada reformasi yang dilakukan secara mendalam, kegagalan seperti ini bukan hanya akan menjadi catatan buruk selama SEA Games… tetapi bisa berdampak panjang pada masa depan sepak bola Indonesia secara keseluruhan.
