
Keputusan Chelsea mengakhiri kerja sama dengan Enzo Maresca pada 1 Januari 2026 menjadi salah satu peristiwa paling mengejutkan di Premier League. Publik luar melihat pemecatan ini sebagai langkah ekstrem, mengingat Maresca sukses mempersembahkan dua trofi pada musim sebelumnya. Namun, di balik layar Stamford Bridge, situasi internal The Blues ternyata jauh dari kata harmonis.
Hubungan antara pelatih dan manajemen dikabarkan memburuk secara signifikan sejak akhir 2025. Serangkaian konflik internal, komunikasi yang tidak sehat, serta performa tim yang merosot membuat manajemen menilai perubahan sebagai pilihan tak terhindarkan. Berikut lima faktor kunci yang mengakhiri era Enzo Maresca di Chelsea.

Retaknya Kepercayaan dengan Manajemen
Kepercayaan adalah fondasi utama hubungan pelatih dan klub. Dalam kasus Enzo Maresca, fondasi tersebut perlahan runtuh. Manajemen Chelsea mulai meragukan komitmen jangka panjang sang pelatih, terutama setelah muncul sejumlah isu yang dianggap sensitif.
Bagi klub sebesar Chelsea, stabilitas dan kesetiaan menjadi nilai utama. Ketika kepercayaan mulai terganggu, segala keputusan teknis Enzo Maresca pun ikut dipertanyakan.

Isu Kontak dengan Manchester City
Salah satu pemicu utama konflik adalah kabar komunikasi Maresca dengan Manchester City. Sang pelatih disebut memberi tahu manajemen Chelsea mengenai adanya pembicaraan informal dengan pihak yang dekat dengan City terkait potensi lowongan di akhir musim.
Meski dilakukan atas dasar kewajiban profesional, langkah tersebut tetap dipandang tidak etis oleh petinggi klub. Situasi ini semakin sensitif mengingat latar belakang Enzo Maresca sebagai mantan asisten Pep Guardiola. Bagi manajemen, kontak tersebut menjadi sinyal awal hilangnya loyalitas.
Ketegangan dengan Tim Medis Klub
Masalah lain muncul dari hubungan Enzo Maresca dengan tim medis Chelsea. Ketegangan memuncak ketika sang pelatih menyebut dua hari jelang kemenangan atas Everton sebagai “48 jam terburuk” selama masa kepelatihannya.
Pernyataan itu diyakini merujuk pada perbedaan pandangan terkait kondisi fisik pemain. Enzo Maresca kerap menuntut pemain inti tetap diturunkan meski hanya mengalami cedera ringan, sementara tim medis menyarankan pendekatan lebih konservatif. Manajemen menilai sikap ini berisiko terhadap keberlangsungan skuad jangka panjang.
Manajemen Khawatir soal Risiko Cedera
Kekhawatiran klub bukan tanpa alasan. Beberapa pemain penting mengalami penurunan kondisi fisik akibat jadwal padat dan keputusan teknis yang agresif. Chelsea memandang konflik ini sebagai tanda kurangnya sinkronisasi antara pelatih dan struktur klub.
Dalam jangka panjang, perbedaan filosofi ini dianggap dapat merugikan proyek besar Chelsea yang berfokus pada keberlanjutan.
Kritik Terbuka di Ruang Publik
Alih-alih meredakan situasi, Maresca justru memperburuk keadaan melalui pernyataan terbuka ke media. Ia menegaskan bahwa kritiknya bukan luapan emosi sesaat, melainkan hasil pemikiran matang.
Sikap ini memicu kekecewaan manajemen. Chelsea menilai masalah internal seharusnya diselesaikan secara tertutup, bukan dikonsumsi publik. Kebiasaan Maresca berbicara blak-blakan dianggap menciptakan suasana “civil war” di dalam klub.
Penurunan Performa di Tengah Musim
Di luar konflik internal, performa tim menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Chelsea mengalami penurunan drastis di tengah musim 2025/2026. The Blues tercatat kehilangan 15 poin dari posisi unggul di Premier League, jumlah terbanyak dibanding tim lain.
Jika digabungkan dengan Liga Champions, total poin yang terbuang mencapai 20. Statistik ini dinilai mencerminkan kegagalan manajemen pertandingan, terutama dalam menjaga konsistensi dan mental bertanding.
Tekanan dari Pesaing Langsung
Situasi semakin kontras ketika melihat performa pesaing. Klub seperti Arsenal hanya kehilangan lima poin dari posisi unggul. Perbandingan ini membuat manajemen Chelsea menilai masalah bukan sekadar faktor keberuntungan, melainkan kesalahan struktural dalam kepemimpinan tim.
Absennya Maresca dari Konferensi Pers
Insiden terakhir yang menjadi titik balik terjadi usai hasil imbang melawan Bournemouth. Maresca tidak hadir dalam konferensi pers dan mengutus asistennya, Willy Caballero, dengan alasan sakit.
Belakangan terungkap bahwa absennya Maresca merupakan bentuk penolakan menghadapi media. Sikap ini dianggap tidak profesional dan menyeret staf pelatih ke dalam konflik pribadi. Manajemen menilai tindakan tersebut melampaui batas toleransi.
Titik Akhir Kesabaran Chelsea
Gabungan konflik kepercayaan, perbedaan visi, performa menurun, dan sikap konfrontatif akhirnya membuat manajemen Chelsea mengambil keputusan tegas. Meski trofi telah diraih, stabilitas klub dinilai lebih penting daripada mempertahankan pelatih yang tidak lagi sejalan dengan arah manajemen.
Berakhirnya era Enzo Maresca menjadi bukti bahwa di klub sebesar Chelsea, kesuksesan tidak hanya diukur dari gelar, tetapi juga dari harmoni internal dan kepemimpinan yang selaras.
