Memantau Kesiapan Stadion Akron di Meksiko, Salah Satu Venue Pertandingan Piala Dunia 2026

Meksiko Kembali Jadi Tuan Rumah, Tapi Rasa Euforia Berbeda

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi perayaan besar bagi Meksiko. Negara ini kembali dipercaya menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia untuk ketiga kalinya dalam sejarah. Namun, alih-alih euforia, banyak penggemar justru merasakan jarak emosional dengan ajang tersebut. Antusiasme yang dulu membara kini terasa lebih redup, terhalang oleh harga tiket mahal dan dinamika politik regional.

Dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, hanya 13 laga yang digelar di Meksiko. Mayoritas pertandingan berlangsung di Amerika Serikat, sementara Kanada mendapat porsi terbatas. Komposisi ini menimbulkan perasaan “tersisih” di kalangan pendukung lokal Meksiko yang selama ini dikenal fanatik dan setia.


Kenangan 1986 yang Sulit Terulang

Jonathan Zamora masih menyimpan memori kuat Piala Dunia 1986. Saat itu, ia berusia tujuh tahun dan duduk di kursi termurah Stadion Azteca untuk menyaksikan laga legendaris Argentina melawan Inggris. Momen Diego Maradona mencetak gol “Hand of God” menjadi kenangan yang tak tergantikan.

Ketika FIFA mengumumkan Meksiko kembali menjadi tuan rumah pada 2026, Zamora berharap bisa mengulang pengalaman tersebut, kali ini bersama sang ayah yang kini berusia 71 tahun. Namun, harapan itu perlahan memudar seiring proses pembelian tiket yang terasa semakin rumit dan eksklusif.

Foto ilustrasi ini menunjukkan jam hitung mundur di situs web FIFA bagi para penggemar sepak bola yang ingin mendaftar tiket Piala Dunia FIFA 2026 di Mexico City pada 10 September 2025. Pendaftaran kini telah dibuka untuk berpartisipasi dalam undian tiket Piala Dunia FIFA 2026, yang akan diselenggarakan di Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada, dengan pertandingan pembukaan berlangsung di Stadion Azteca di Mexico City pada 11 Juni 2026

Sistem Tiket yang Membuat Frustrasi

Selama berbulan-bulan, Zamora mengikuti undian resmi FIFA untuk mendapatkan tiket pertandingan. Namun, upaya itu selalu berakhir tanpa hasil. Pengalaman serupa dialami banyak fans lain yang merasa peluang mereka semakin kecil, meski negara mereka tercatat sebagai tuan rumah.

Kondisi ini memunculkan keraguan di kalangan publik tentang makna status tuan rumah itu sendiri. Bagi sebagian fans, Meksiko hanya menjadi lokasi simbolis, bukan pusat perayaan yang benar-benar melibatkan rakyatnya.


Harga Tiket Selangit di Negeri Berpenghasilan Rendah

Kekecewaan semakin dalam ketika harga tiket diumumkan. Untuk laga pembuka di Stadion Azteca, tiket reguler dibanderol lebih dari seribu dolar AS. Angka ini jauh melampaui kemampuan rata-rata warga Meksiko, mengingat pendapatan profesional bulanan rata-rata hanya sekitar 7.500 peso.

Paket hospitality bahkan mencapai kisaran 10.000 dolar AS. Harga tersebut membuat Piala Dunia terasa eksklusif, hanya bisa diakses segelintir kalangan dengan daya beli tinggi. Perbandingan dengan edisi 1986 pun tak terelakkan, ketika paket tiket beberapa pertandingan masih relatif terjangkau.


Piala Dunia yang Terasa Menjauh dari Rakyat

Penulis Meksiko, Rodrigo Márquez Tizano, menilai Piala Dunia 2026 mencerminkan pergeseran besar dalam wajah sepak bola global. Menurutnya, turnamen yang dulu dianggap milik semua orang kini lebih dikuasai kepentingan bisnis dan komersialisasi.

Fans lokal merasa terpinggirkan, terjebak dalam antrean virtual tanpa kepastian. Bagi mereka, sepak bola yang dahulu menjadi ruang kebersamaan kini berubah menjadi produk premium yang sulit dijangkau.


Kebingungan Informasi dan Pasar Sekunder

Masalah tiket semakin rumit karena minimnya transparansi informasi. Banyak penggemar mengaku mengikuti prosedur yang sama, namun tidak satu pun berhasil mendapatkan tiket. Situasi ini memicu kecurigaan bahwa sistem dibuat berlapis-lapis agar orang terdorong membeli tiket dari pasar penjualan ulang dengan harga jauh lebih mahal.

Ketidakjelasan ini merusak kepercayaan publik. Alih-alih membangun antusiasme, proses tiket justru memunculkan rasa frustrasi dan ketidakadilan.


Bayang-bayang Donald Trump dan Ketegangan Politik

Selain persoalan tiket, Piala Dunia 2026 juga berlangsung di tengah suasana geopolitik yang kurang kondusif. Hubungan Amerika Serikat dengan Meksiko dan Kanada memburuk akibat kebijakan Presiden Donald Trump, terutama terkait isu imigrasi dan tarif perdagangan.

Ketegangan ini menciptakan rasa tidak nyaman di kalangan fans. Turnamen yang seharusnya menjadi simbol persatuan global justru dibayangi sentimen politik yang memecah suasana.


Perayaan Tetap Hidup di Luar Stadion

Bagi banyak fans Meksiko seperti Zamora dan Jorge García, impian menonton Piala Dunia langsung di stadion kini terasa semakin jauh. Namun, semangat sepak bola belum sepenuhnya padam.

Mereka masih berharap bisa merayakan Piala Dunia dengan cara lain, berkumpul di jalanan, menikmati atmosfer kota, dan menyambut tamu dari berbagai negara. Perayaan mungkin tidak terjadi di dalam stadion, tetapi tetap hidup di ruang publik, tempat sepak bola masih menjadi milik semua orang.