Tebing Tinggi, Kalimantan Selatan – Banjir bandang melanda Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, pada Sabtu, 27 Desember 2025. Peristiwa ini menyebabkan ribuan warga terdampak, memaksa mereka mengungsi ke lokasi aman. Berdasarkan data BPBD setempat, 1.466 rumah dan 1.615 kepala keluarga (KK) terdampak langsung. Banjir ini menjadi salah satu bencana alam terparah yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Kronologi Terjadinya Banjir

Hujan deras yang mengguyur wilayah Tebing Tinggi sejak malam sebelumnya menyebabkan debit air sungai meningkat drastis. Akibatnya, air sungai meluap ke pemukiman warga, terutama di Desa Tebing Tinggi Hilir, Tebing Tinggi Hulu, dan Halong. Ketinggian air bervariasi antara 50 cm hingga mencapai 2 meter. Banyak rumah warga tergenang hingga setengah hingga satu lantai, sehingga aktivitas sehari-hari terganggu.

Dampak Langsung pada Warga

Banjir bandang ini menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang signifikan. Ribuan warga kehilangan akses ke sekolah, pasar, dan tempat kerja. Beberapa keluarga terpaksa meninggalkan rumah dengan membawa barang-barang seadanya. Selain itu, pasokan listrik dan komunikasi sempat terganggu, sehingga menambah kesulitan warga dalam menghadapi bencana.

Evakuasi Warga dan Posko Darurat

Tim SAR gabungan, BPBD, dan relawan segera melakukan evakuasi warga terdampak. Ratusan warga menempati posko darurat yang telah disiapkan pemerintah daerah. Posko ini dilengkapi kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan tidur. Evakuasi berjalan lancar berkat koordinasi antara aparat desa, petugas keamanan, dan relawan.

Kerusakan Infrastruktur

Selain rumah warga, jalan desa, jembatan penghubung antar kampung, dan fasilitas umum turut rusak akibat derasnya arus air. Kerusakan ini menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan. Pemerintah daerah segera meninjau dan memperbaiki infrastruktur yang terdampak agar akses kembali normal.

Tanggapan Pemerintah

Pemerintah Kabupaten Balangan bersama BPBD terus memantau perkembangan banjir. Mereka menghimbau masyarakat agar tetap waspada dan mengikuti arahan petugas. Selain itu, pemerintah menyiapkan bantuan tambahan berupa sembako, air bersih, dan peralatan darurat untuk warga yang masih bertahan di lokasi terdampak.

Bantuan dan Solidaritas Masyarakat

Selain bantuan pemerintah, warga di wilayah terdampak juga menerima dukungan dari masyarakat sekitar. Relawan lokal dan organisasi kemanusiaan membantu mendistribusikan makanan, pakaian, dan obat-obatan. Solidaritas ini sangat membantu warga yang kehilangan rumah atau harus tinggal di pengungsian sementara.

Upaya Pemulihan

Pemulihan dilakukan secara bertahap. Rumah-rumah warga yang rusak mulai diperbaiki, jalan dan jembatan yang terputus segera direkonstruksi, serta layanan dasar seperti listrik dan air bersih mulai normal kembali. Pemerintah daerah juga merencanakan pembangunan tanggul dan penghalang sungai untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

Pencegahan Bencana di Masa Depan

Banjir ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Pemerintah daerah berencana melakukan sosialisasi mitigasi bencana, termasuk edukasi warga mengenai evakuasi darurat, penanganan banjir, dan penyimpanan persediaan penting. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko korban dan kerugian saat bencana berikutnya terjadi.

Dampak Jangka Panjang

Selain kerugian materi, banjir ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi warga, terutama terkait sanitasi dan penyebaran penyakit. Aktivitas pendidikan dan ekonomi warga juga sempat terhenti. Oleh karena itu, pemulihan harus dilakukan tidak hanya secara fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan sosial masyarakat terdampak.

Kesimpulan

Banjir bandang yang melanda Tebing Tinggi, Kalimantan Selatan, bukan hanya sekadar bencana alam biasa. Dengan 1.466 rumah dan 1.615 KK terdampak, peristiwa ini menunjukkan betapa cepatnya alam dapat mengubah kehidupan masyarakat. Dampak sosial, ekonomi, dan psikologis sangat nyata, mulai dari kerusakan rumah, terputusnya akses pendidikan dan pekerjaan, hingga meningkatnya risiko kesehatan.

Evakuasi cepat dan koordinasi yang baik antara BPBD, tim SAR, relawan, dan warga setempat terbukti menjadi kunci dalam meminimalkan korban jiwa dan kerugian yang lebih besar. Posko darurat yang disiapkan memberikan perlindungan dan kebutuhan dasar bagi warga yang terdampak.

Selain penanganan darurat, bencana ini menekankan pentingnya upaya mitigasi jangka panjang. Pembangunan infrastruktur tahan bencana seperti tanggul dan penghalang sungai, serta edukasi masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana, menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko banjir di masa depan. Kesadaran kolektif masyarakat dalam menghadapi bencana juga terbukti penting, terlihat dari solidaritas warga dan dukungan relawan yang membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan.

Secara keseluruhan, banjir di Tebing Tinggi menjadi pengingat nyata akan perlunya kesiapsiagaan, solidaritas, dan ketahanan komunitas menghadapi bencana alam. Penanganan cepat, bantuan tepat sasaran, dan koordinasi efektif antara pemerintah, masyarakat, dan relawan dapat menjadi contoh bagaimana menghadapi bencana dengan efisien. Ke depan, pembelajaran dari bencana ini harus diterapkan untuk memperkuat sistem tanggap darurat, meminimalkan kerugian, dan menjaga keselamatan warga.