https://kedaisport19.com/bryan-mbeumo-dualisme-skuad-kamerun-afcon-2025

Dualisme Kepelatihan Guncang Kamerun

Bryan Mbeumo menghadapi situasi yang jarang terjadi dalam karier internasionalnya menjelang Piala Afrika 2025. Namanya tercantum dalam dua daftar skuad Timnas Kamerun yang dirilis oleh dua pelatih berbeda hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai di Maroko pada 21 Desember 2025. Kondisi ini menjadi cerminan nyata konflik internal federasi sepak bola Kamerun yang hingga kini belum menemukan titik terang terkait otoritas kepelatihan Indomitable Lions.

Masalah tersebut berakar dari tarik ulur kekuasaan antara Federasi Sepak Bola Kamerun dan Kementerian Olahraga setempat. Dualisme ini bukan hanya menciptakan kebingungan administratif, tetapi juga berdampak langsung pada para pemain yang dipanggil, termasuk Mbeumo yang kini membela Manchester United. Di tengah fokusnya membangun stabilitas performa bersama klub barunya, ia harus berhadapan dengan ketidakpastian di level tim nasional.

Posisi Mbeumo Relatif Aman

Meski situasi terlihat kacau, posisi Bryan Mbeumo tergolong lebih aman dibandingkan sejumlah pemain lain. Winger berusia 26 tahun itu masuk dalam dua versi daftar skuad, baik yang dirilis oleh Marc Brys maupun David Pagou. Hal ini menandakan bahwa kualitas dan perannya masih diakui oleh kedua kubu yang berseteru.

Bagi Mbeumo, pemanggilan ganda ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, peluang tampil di AFCON 2025 tetap terbuka lebar. Namun di sisi lain, ketidakjelasan otoritas kepelatihan bisa memengaruhi persiapan teknis, pendekatan taktik, hingga suasana ruang ganti. Bagi pemain yang baru saja pindah ke klub besar seperti Manchester United, stabilitas mental dan fokus menjadi aspek krusial.

Nasib Berbeda Pemain Senior

Situasi kontras dialami sejumlah pemain senior Kamerun. Andre Onana, kiper utama yang juga rekan Mbeumo di Manchester United, hanya masuk dalam daftar versi Marc Brys dan tidak tercantum dalam skuad pilihan David Pagou. Hal serupa terjadi pada nama-nama berpengalaman seperti Vincent Aboubakar, Eric Choupo-Moting, serta Michael Ngadeu-Ngadjui.

Ketidakhadiran para pemain senior ini dalam salah satu daftar memunculkan spekulasi bahwa konflik tidak semata soal teknis, melainkan juga sarat muatan politik internal. Seorang pejabat Kamerun bahkan menegaskan bahwa pemain yang hanya tercantum dalam daftar Brys tidak akan diberangkatkan ke turnamen, mempertegas garis keras federasi.

Akar Konflik Brys dan Eto’o

Konflik bermula sejak penunjukan Marc Brys sebagai pelatih kepala oleh Kementerian Olahraga Kamerun. Federasi yang dipimpin Samuel Eto’o menilai penunjukan tersebut tidak sejalan dengan struktur organisasi sepak bola nasional. Ketegangan semakin meningkat setelah Eto’o terpilih kembali sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Kamerun dengan dukungan 97 persen suara.

Kemenangan telak itu ditafsirkan Eto’o sebagai mandat penuh untuk melakukan perombakan, termasuk mencopot Brys. Federasi kemudian menuduh Brys melakukan 11 pelanggaran, mulai dari komentar tidak pantas, pelanggaran profesional, hingga tuduhan memanipulasi pemain agar berseberangan dengan federasi. Namun Brys bersikeras bahwa dirinya belum pernah menerima surat pemecatan resmi dan masih merasa sebagai pelatih sah.

Dua Daftar, Satu Tim

Ketegangan mencapai puncaknya ketika kedua pelatih merilis daftar skuad masing-masing. Brys memasukkan banyak pemain senior yang berpengalaman di turnamen besar, sementara Pagou memilih pendekatan berbeda dengan mencoret beberapa nama besar. Dualisme ini menempatkan pemain dalam posisi sulit, karena mereka harus menunggu keputusan akhir soal siapa yang benar-benar berwenang.

Brys secara terbuka menuding Samuel Eto’o sebagai dalang di balik pencoretan pemain senior. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk pembalasan terhadap pemain yang berani mempertanyakan otoritas federasi. Pernyataan keras ini semakin memperkeruh suasana jelang turnamen.

Tantangan Jelang Laga Penting

Di tengah konflik struktural, Kamerun tetap dijadwalkan tampil di AFCON 2025. Mereka akan membuka turnamen dengan menghadapi Gabon pada malam Natal, dilanjutkan laga berat melawan Pantai Gading pada 28 Desember, dan menutup fase grup kontra Mozambik pada malam Tahun Baru. Jadwal padat ini menuntut kesiapan fisik dan mental yang optimal.

Bagi Bryan Mbeumo, situasi ini menjadi ujian kedewasaan profesional. Dengan kualitas individu yang dimilikinya, ia diharapkan mampu tetap fokus di lapangan terlepas dari kekacauan di luar. Namun secara kolektif, konflik internal jelas menjadi tantangan besar bagi Kamerun. Tanpa penyelesaian cepat, potensi tim kuat ini terancam tereduksi oleh masalah non-teknis yang seharusnya bisa dihindari.