Luka Modric dikenal sebagai simbol kesetiaan dan profesionalisme di Real Madrid. Selama 13 tahun berseragam Los Blancos, gelandang asal Kroasia itu mengalami hampir semua hal yang bisa dirasakan seorang pesepak bola elite. Ia meraih trofi, menghadapi tekanan besar, dan menyaksikan rekan-rekan datang serta pergi.

Di antara banyak perpisahan, ada satu transfer yang benar-benar membekas di hati Modric. Bukan karena alasan taktis atau ambisi pribadi, melainkan karena ikatan emosional yang begitu kuat. Kepergian Mateo Kovacic pada 2018 menjadi momen yang membuat Modric merasa kehilangan besar.

Kovacic Lebih dari Sekadar Rekan Setim

Mateo Kovacic datang ke Real Madrid pada 2015 sebagai pemain muda penuh potensi. Ia harus bersaing dengan gelandang kelas dunia, termasuk Modric sendiri. Meski demikian, hubungan keduanya berkembang jauh melampaui persaingan internal.

Bagi Modric, Kovacic bukan hanya rekan latihan atau pelapis di pertandingan besar. Ia adalah sosok yang memahami permainan, karakter, dan budaya sepak bola Kroasia. Kedekatan itu membuat kebersamaan mereka terasa istimewa.

Tiga Musim Penuh Prestasi

Modric dan Kovacic bermain bersama selama tiga musim di Santiago Bernabeu. Dalam periode tersebut, Real Madrid menorehkan sejarah dengan meraih gelar Liga Champions di setiap musim. Meski Kovacic jarang menjadi starter reguler, kontribusinya tetap signifikan.

Ia kerap tampil di laga-laga penting, memberikan energi, kontrol bola, dan ketenangan di lini tengah. Modric menilai performa Kovacic sering kali berada di level tertinggi, meski tidak selalu mendapat sorotan.

Penilaian Tinggi dari Modric

Dalam berbagai kesempatan, Modric tak pernah ragu memuji mantan rekannya itu. Ia menegaskan bahwa kualitas Kovacic jauh melampaui statusnya sebagai pemain rotasi. Menurut Modric, peran di lapangan tidak selalu mencerminkan nilai sesungguhnya seorang pemain.

Ia menyebut Kovacic sebagai salah satu gelandang terbaik pada periode tersebut. Bagi Modric, kemampuan membawa bola, visi bermain, dan kecerdasan taktik Kovacic membuatnya layak menjadi pemain inti di banyak klub besar.

Keputusan Pergi yang Menyakitkan

Pada 2018, Kovacic memutuskan meninggalkan Real Madrid demi mendapatkan menit bermain lebih banyak. Keputusan itu sepenuhnya profesional, namun tetap menyisakan luka emosional bagi Modric.

Ia memahami alasan sang junior, tetapi perpisahan tersebut terasa berat. Modric mengakui bahwa kehilangan Kovacic bukan sekadar soal berkurangnya opsi di lini tengah, melainkan hilangnya sosok yang dekat secara personal.

Ikatan yang Terbangun di Kroasia

Hubungan Modric dan Kovacic tidak hanya terjalin di level klub. Keduanya menjadi pilar penting tim nasional Kroasia selama bertahun-tahun. Sejak pertama kali bermain bersama, chemistry mereka langsung terasa kuat.

Kovacic dan Modric saling melengkapi di lini tengah. Kombinasi pengalaman, kreativitas, dan energi muda membuat Kroasia tampil solid di berbagai turnamen besar.

Final Piala Dunia 2018

Puncak kebersamaan mereka di tim nasional terjadi pada Piala Dunia 2018. Kroasia secara mengejutkan melaju hingga final. Modric menjadi kapten dan motor permainan, sementara Kovacic berperan penting dalam menjaga keseimbangan tim.

Meski gagal meraih gelar juara, pencapaian tersebut menjadi sejarah besar bagi sepak bola Kroasia. Ikatan emosional antara Modric dan Kovacic semakin kuat setelah turnamen tersebut.

Melanjutkan Sejarah di Qatar

Empat tahun berselang, keduanya kembali mencatatkan prestasi dengan membawa Kroasia finis di posisi ketiga Piala Dunia 2022. Meski usia Modric semakin bertambah, chemistry mereka tetap terjaga.

Pengalaman dan kepercayaan satu sama lain menjadi kunci keberhasilan Kroasia mempertahankan daya saing di level tertinggi. Hubungan itu terbukti tidak luntur meski sudah berpisah di level klub.

Hubungan yang Semakin Kuat

Menariknya, kepergian Kovacic dari Real Madrid tidak membuat hubungan mereka merenggang. Justru sebaliknya, komunikasi dan kedekatan emosional semakin erat.

Modric menilai hal tersebut jarang terjadi dalam dunia sepak bola. Biasanya, perpisahan klub membuat jalan hidup pemain perlahan terpisah. Namun, dengan Kovacic, ikatan mereka justru semakin dalam.

Makna Kehilangan bagi Modric

Bagi Modric, perpisahan dengan Kovacic menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak selalu tentang taktik dan trofi. Ada sisi manusiawi yang sering luput dari sorotan, yakni hubungan antarpemain yang terbangun dari waktu ke waktu.

Kehilangan Kovacic mengajarkan Modric tentang arti kebersamaan dan penghargaan terhadap peran setiap individu, baik yang sering tampil maupun yang bekerja dalam diam.

Kesimpulan

Kepergian Mateo Kovacic dari Real Madrid menjadi salah satu momen paling emosional dalam karier Luka Modric. Bukan karena penurunan kualitas tim, melainkan karena ikatan personal yang begitu kuat di antara keduanya. Meski berpisah di level klub, hubungan Modric dan Kovacic justru semakin solid melalui tim nasional Kroasia. Kisah ini membuktikan bahwa dalam sepak bola, nilai persahabatan dan rasa saling menghormati sering kali lebih abadi daripada seragam yang dikenakan.