Nama Liam Rosenior mendadak menjadi topik hangat di kalangan penggemar Premier League. Pelatih asal Inggris itu disebut sebagai kandidat terkuat untuk mengisi kursi manajer Chelsea usai berakhirnya era Enzo Maresca pada awal 2026. Ketertarikan The Blues bukan tanpa alasan, sebab reputasi Rosenior tengah menanjak tajam berkat kinerjanya bersama RC Strasbourg di Liga Prancis.

Pada usia 41 tahun, Rosenior dipandang sebagai representasi pelatih modern yang mampu memadukan filosofi progresif dengan manajemen pemain muda. Profilnya dianggap sejalan dengan visi jangka panjang Chelsea yang ingin membangun tim kompetitif berbasis talenta muda. Berikut perjalanan lengkap sosok Liam Rosenior, dari darah sepak bola hingga bersinar di Prancis.

Tumbuh di Lingkungan Sepak Bola

Liam James Rosenior lahir dan tumbuh dalam keluarga yang menjadikan sepak bola sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ayahnya, Leroy Rosenior, dikenal sebagai mantan striker profesional yang kemudian meniti karier sebagai pelatih. Lingkungan tersebut membuat Liam akrab dengan ruang ganti, diskusi taktik, dan dinamika tim sejak usia sangat dini.

Sejak kecil, Rosenior tidak hanya bermain bola, tetapi juga mempelajari aspek strategis permainan. Ia gemar membaca buku kepelatihan dan menganalisis pertandingan. Pada usia sembilan tahun, minatnya pada taktik sudah terlihat jelas. Dua tahun berselang, ia bahkan mulai menyusun sesi latihan sederhana untuk tim sekolahnya.

Fondasi intelektual ini menjadi pembeda utama Rosenior dibanding banyak pemain seangkatannya. Ia tumbuh sebagai pesepak bola dengan pola pikir pelatih, bukan sekadar atlet di lapangan.

Awal Karier Profesional sebagai Pemain

Rosenior memulai karier profesionalnya di akademi Bristol City pada 2001. Ia promosi ke tim utama setahun kemudian dan langsung mencuri perhatian. Salah satu momen penting awal kariernya adalah gol di final Football League Trophy 2003 yang membantu Bristol City meraih gelar juara.

Penampilan konsisten tersebut membawanya ke Fulham pada November 2003. Meski tidak langsung menjadi pilihan utama, masa peminjaman ke Torquay United memberinya jam terbang berharga. Sekembalinya ke Fulham, ia perlahan mengamankan tempat di tim utama dan mencatat hampir 80 penampilan liga.

Debut Premier League melawan Manchester United menjadi pengalaman penting yang membentuk mental bertandingnya di level tertinggi.

Masa Keemasan Bersama Hull City

Stabilitas karier Rosenior sebagai pemain justru tercapai saat bergabung dengan Hull City pada 2010. Selama lima musim, ia menjadi andalan di posisi bek sayap dan dikenal sebagai pemain pekerja keras dengan disiplin tinggi.

Puncak kariernya terjadi pada final Piala FA 2014 melawan Arsenal. Meski Hull City kalah, partisipasi di laga bersejarah tersebut menjadi simbol konsistensi dan dedikasinya sebagai pemain profesional. Setelah itu, ia menutup karier bermainnya di Brighton sebelum beralih sepenuhnya ke dunia kepelatihan.

Transisi Mulus ke Dunia Kepelatihan

Berbeda dengan banyak mantan pemain, Rosenior mempersiapkan transisi kariernya dengan matang. Ia telah mengantongi lisensi UEFA Pro saat masih aktif bermain, tepatnya pada usia 32 tahun. Setelah pensiun pada 2018, ia langsung dipercaya menjadi asisten pelatih tim U-23 Brighton.

Perannya sebagai pundit sepak bola juga memperkaya sudut pandang analisisnya. Kemampuan membaca permainan dan menjelaskan konsep taktik membuatnya semakin matang sebagai pelatih.

Pengalaman Penting di Derby County

Karier manajerial Rosenior mulai menanjak saat bergabung dengan Derby County pada 2019. Ia bekerja di bawah Phillip Cocu sebelum kemudian menjadi tangan kanan Wayne Rooney. Kolaborasi keduanya berjalan efektif, memadukan kepemimpinan karismatik Rooney dan kecerdasan taktik Rosenior.

Ketika Rooney hengkang pada 2022, Rosenior dipercaya menjadi manajer interim di tengah krisis finansial klub. Meski situasi sulit, ia mampu menjaga stabilitas tim. Pengalaman ini menempa mentalnya sebagai pemimpin dalam kondisi tekanan tinggi.

Kembali ke Hull City sebagai Pelatih

Setelah dari Derby, Rosenior ditunjuk sebagai manajer Hull City, klub yang pernah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun. Di sana, ia mulai menerapkan filosofi permainan progresif dengan fokus pada penguasaan bola dan pengembangan pemain muda.

Meski hasilnya belum spektakuler, pendekatan tersebut menunjukkan identitas jelas dan menarik perhatian klub-klub yang memiliki visi jangka panjang.

Revolusi di RC Strasbourg

Langkah terbesar dalam karier Rosenior datang pada Juli 2024 ketika ia menerima tantangan melatih RC Strasbourg Alsace. Ia mencatat sejarah sebagai pelatih Inggris pertama klub tersebut di era modern.

Di Prancis, Rosenior langsung berani mengambil risiko. Pada laga debutnya melawan Montpellier, ia menurunkan starting XI dengan seluruh pemain outfield berusia di bawah 23 tahun. Filosofi berbasis penguasaan bola, pressing tinggi, dan keberanian membangun dari belakang menjadi ciri khas timnya.

Hasilnya terlihat nyata pada musim 2024/2025. Strasbourg finis di peringkat ketujuh dan mengamankan tiket ke UEFA Conference League. Pencapaian ini dianggap luar biasa mengingat usia skuad yang sangat muda.

Mengapa Cocok untuk Chelsea

Keberhasilan di Strasbourg membuat Rosenior dipandang sebagai sosok ideal untuk Chelsea. Filosofinya selaras dengan proyek jangka panjang The Blues yang menitikberatkan pada pemain muda, struktur permainan jelas, dan budaya tim kuat.

Dengan pengalaman di Inggris dan Prancis, serta pemahaman mendalam tentang sepak bola modern, Liam Rosenior kini berada di persimpangan besar kariernya. Jika dipercaya menangani Chelsea, ia berpotensi menjadi arsitek era baru di Stamford Bridge.